CARA CERDAS BERKOMPROMI Mengenali & Memahami Jebakan Kompromi Anda Bisa Tetap Menjadi Diri Sendiri. Tapi Harus Ada yang Anda Lakukan Lebih dari sekadar “Hanya Berkata Tidak” Kompromi yang sehat penting untuk mencapai tujuan berarti apa pun bersama orang lain. Tapi ketika pekerjaan menekan Anda untuk mengkhianati kata-kata, prinsip, atau komitmen Anda yang lainnya, maka ia menjadi sangat tidak sehat dan membuat stress. Dan itu bisa terjadi bahkan ketika sedang bekerja untuk suatu organisasi atau pemimpin yang Anda hormati sekaligus kagumi. Elizabeth Doty menawarkan penangkalnya. Saat Anda merasa tertekan untuk bermain dengan aturan-aturan yang meruntuhkan integritas Anda, doty menunjukkan bagaimana Anda bisa membuka jalan pada enam fondasi personal yang akan membuat Anda tetap menjadi diri sendiri sesuai dengan nilai-nilai dan aspirasi terdalam yang Anda miliki. Melalui lebih dari lima puluh laporan yang gamblang dari sumber pertama tentang kompromi dan keberanian dalam bisnis, ia menyediakan panduan bagi setiap orang pada level organisasioanal apa pun yang ingin bertindak dengan kejernihan, kekuatan, dan tujuan yang lebih besar, juga bagi para pemimpin senior agar memimpin organisasi yang mengizinkan orang-orang tetap menjadi diri mereka. The Compromise Trap (Jebakan Kompromi) menguraikan secara detail strategi yang membuat Anda tetap dalam dorongan positif—untuk diri Anda dan apa pun yang Anda tetapkan sebagai kebaikan yang lebih besar—terlepas dari betapa sulit lingkungan sekitar.
CARA CERDAS BERKOMPROMI Mengenali & Memahami Jebakan
26 04 2010Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : Tak terkategori
Akurasi dan Kutipan
12 02 2007Oleh Farid Gaban
AKURASI: KUNCI KREDIBILITAS
Informasi yang penting adalah informasi yang akurat dan jelas. Penulis dan pembaca mempunyai keperluan yang berbeda, namun bisa bekerjasama. Penulis tak ada artinya tanpa pembaca, dan pembaca masuk dalam sebuah cerita dengan harapan besar bisa memahami semuanya. Tanggung jawab yang terbesar terletak pada penulis. Jika penulis mengkhianati harapan pembaca dengan membuat sejumlah kesalahan atau kekurang-tepatan, dia merusak kerjasama yang telah terbentuk.
Ketidak-akuratan biasanya disebabkan karena kecerobohan, kemalasan, penipuan atau ketidakpedulian reporter dalam menuliskan hasil reportasenya. Pengecekan ulang sebelum kita menulis, membaca kembali dengan hati-hati dan mengeceknya kembali setelah kita menulis adalah benteng terbaik terhadap ketidak-akuratan.
MENGUJI AKURASI
Berikut ini adalah elemen-elemen utama dalam mencermati sebuah fakta atau detil.
Jangan menebak
Penulis harus memegang betul apa saja yang diketahui dan apa saja yang dimengerti. Jika kita tidak benar-benar memahami, cek kembali hal itu atau tinggalkan sama sekali. Jangan pernah mengira-kira.
Angka
Ceklah dua kali semua angka dan jumlah. Sebuah angka seringkali tak memiliki makna, kecuali diletakkan pada konteks yang mudah dipahami pembaca. Angka tentang omset penjualan misalnya, tak punya makna jika tak disertai omset penjualan tahun lalu, berapa prosentase kenaikan atau penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.
Angka juga seringkali lebih bermakna jika disertai penjelasan yang menyentuh pembaca:
• Seberapa jauh melampaui standar pencemaran udara?
• Seberapa mahal dibanding APBN Indonesia tahun ini atau dibanding harga mobil Kijang yang rata-rata dimiliki pembaca?
• Seberapa luas dibanding lapangan sepakbola?
Dengan kata lain, angka yang ada sebaiknya disertai ekuivalennya yang mudah dicerap pembaca. Ukuran-ukuran juga sebaiknya dikonversikan ke ukuran yang lazim dipakai pembaca: km bukan mil, rupiah bukan dolar, meter bukan kaki, kg bukan pound. Jika Anda tak menghitung sendiri, sebutkan dari mana angka itu dikutip — dari sumber atau dari buku statistik, misalnya.
Nama, Tanggal dan Tempat
Tak ada orang yang suka namanya ditulis secara salah. Usahakan untuk meminta sumber berita mengeja sendiri nama sekaligus gelar dan nama panggilannya. Lihat di buku rujukan yang terpercaya, misalnya buku apa siapa atau ensiklopedi. Jangan percaya hanya pada leaflet atau selebaran atau omongan teman Anda. Catatan penting tentang nama sumber: sebagian besar nama orang Indonesia terdiri atas dua kata (kecuali Soeharto misalnya). Cantumkan nama lengkap ketika pertama kali Anda menyebutnya dalam laporan. Pada saat kita menulis tentang tanggal, lihatlah kalender lebih dahulu. Ketika menulis tentang tempat, lihatlah kembali peta. Jika mungkin, milikilah sebuah buku pintar, infopedi, tabel konversi, kalender dan peta kecil. Letakkan pada tempat yang mudah dijangkau, sehingga tak enggan kita untuk mengecek sesuatu fakta.
Kutipan
Apakah sesuatu kutipan benar-benar seperti yang dikatakan oleh sumber? Apakah catatan kita benar dan kita berani mempertahankan sampai di meja pengadilan? Jika tidak, sebaiknya dijelaskan dengan kata-kata kita sendiri saja.
Terburu-buru
Kata-kata yang sering digunakan sebagai permintaan maaf atas beberapa kesalahan adalah: ”Saya tidak punya waktu untuk mengeceknya kembali”. Alasan yang tidak bisa diterima.
Cerita Bohong
Sangat jarang penerbitan yang tidak memasukkan hal ini ke dalam beritanya. Keragu-raguan adalah perlindungan yang terbaik. Jika sebuah cerita atau kenyataan seolah-olah sangat aneh atau menakjubkan untuk dipercaya, jangan percaya hal itu sebelum ada pembuktiannya.
Kesalahan Teknis
Perhatian yang istimewa sangat dibutuhkan pada tulisan khusus seperti ilmu pengetahuan, hukum, kedokteran, teknik, keuangan dan sejenisnya. Sediakan waktu untuk menelitinya, dan kemudian ceklah kembali informasi yang kita peroleh melalui pakar yang dapat dipercaya pada bidang tersebut.
Rekayasa
Manipulasi, perubahan konteks, distorsi, pemaparan yang salah, sindiran, kebencian, gosip, kabar angin dan melebih-lebihkan. Semua itu sangat tinggi ongkosnya, sementara hasilnya sangat rendah.
MEMILIH DAN MENULIS KUTIPAN
Kutipan adalah cara yang paling indah untuk menyajikan cerita dalam kerangka yang manusiawi. Dan kutipan hanya akan bagus jika:
• Menggambarkan aktivitas secara lebih lebih hidup atau lebih tepat daripada yang bisa digambarkan dengan cara lain.
• Menjawab pertanyaan yang mungkin diajukan oleh pembaca.
• Berusaha memberikan gambaran sekilas tentang pribadi pembicara.
• Untuk memberikan citarasa kesegaran dan kredibilitas pada sebuah cerita.
Untuk menentukan apakah Anda akan mengutip langsung ataut idak, inilah pedomannya:
1. Apakah kutipan itu kata-katanya tidak berantakan, ringkas dan jelas? Bila jawabannya tidak, Anda harus memakai kalimat tidak langsung.
2. Apakah kutipan langsung itu akan memperkuat efek, memperjelas siapa yang bicara, atau menambah kesan sebagaipendapat dari orang yang memang layak dikutip? Bila jawabannya ya, pakailah kalimat kutipan langsung.
3. Apakah cerita yang mengawalinya cenderung untuk under-quote? Bila jawabannya ya, pakailah kutipan langsung. Bila over-quote, pakailah bentuk kutipan tidak langsung.
Kadang-kadang pilihannya malah lebih sulit. Yakni bila hanya sedikit bagian kutipan yang dapat diangkat, yakni bagian kecil yang sangat bagus. Bila demikian halnya, baiklah kita memakai bentuk kutipan tidak langsung untuk menuliskan sebagian besar ucapan si subyek, dan baru kita pakai tanda kutipan langsung pada bagian yang menarik perhatian itu:
Walikota mengutuk Komisi Pelayanan Masyarakat yang cara kerjanya ”tolol dan brengsek” dalam menjalankan petunjuk-petunjuk DPRD.
Kadang-kadang kutipan yang bagus bisa lemah karena ditulis terlalu panjang:
”Karena sikap warga yang tidak kooperatif, selalu mengganggu kami dengan keluhan kecil-kecil, seperti gong-gongan anjing, radio stereo yang berisik, anak-anak yang ribut, perkelahian pribadi, kucing hilang, bau yang tidak enak dari pabrik, saya mengundurkan diri,” kata Ketua RT itu.
Pak Ketua RT itu terlalu berkepanjangan, sehingga wartawan bisa memilih begini:
”Karena sikap warga yang tidak kooperatif, yang selalu mengganggu kami dengan keluhan kecil-kecil… saya mengundurkan diri,” kata Ketua RT itu.
Dalam bagian atas sudah kita bicara perlunya alinea pendek. Tapi kadang-kadang, sebuah kutipan yang bagus memerlukan tempat panjang. Nah, seorang penulis yang baik akan membagi kutipan itu menjadi beberapa alinea.
”Kesulitan kami muncul setelah saya dipecat. Uang kami habis tiga minggu kemudian, sehingga kami tidak bisa membayar sewa. Pemilik rumah mengusir kami, meskipun sebelumnya kami tidak pernah menunggak pembayaran. Kami tinggal di bawah jembatan, semacam gelandangan,” kata Abdul Gafur.
Bila penulis memutuskan memakai kutipan itu supaya efektif, ia harus memotongnya menjadi paling tidak dua alinea. Ini bisa dilakukan dengan tidak menutup kutipan pada akhir satu aliena dan menambahkan tanda kutip pada awal alinea berikutnya:
”Kesulitan kami muncul setelah saya dipecat,” kata Abdul Gafur. ”Uang kami habis tiga minggu kemudian, sehingga kami tidak bisa membayar sewa. Pemilik rumah mengusir kami, meskipun sebelumnya kami tidak pernah menunggak pembayaran.
”Saya mencoba kemudian untuk pergi ke Kantor Jawatan Sosial, tapi mereka mengatakan saya tidak berhak dapat bantuan karena saya menolak tawaran pekerjaan di luar kota. Saya tidak ada pilihan lain karena saya tidak punya uang untuk ongkos bis.
”Maka, selama 2 minggu terakhir ini, kami tinggal di bawah jembatan, semacam gelandangan.”
Anda perhatikan bahwa penyebutan nama hanya sekali pada awal alinea karena kutipan masih berlanjut. Dalam hal-hal lain, bila ada kutipan baru, nama yang dikutip harus disebutkan lagi:
”Kesulitan kami muncul setelah saya dipecat,” kata Abdul Gafur. ”Uang kami habis tiga minggu kemudian, sehingga kami tidak bisa membayar sewa. Pemilik rumah mengusir kami, meskipun sebelumnya kami tidak pernah menunggak pembayaran.”
Untuk meneruskan cerita itu setelah pengecekan secukupnya, penulis mencampur kutipan langsung dan kutipan tidak langsung:
Pertama:
Mudjono, kepada bagian di tempat Abdul Gafur bekerja di Koperasi Pertanian Meguwo, mengatakan bahwa Gafur dipecat setelah terbukti menggelapkan uang pupuk. Gafur membantah tuduah itu.
Yang empunya rumah tempat Gafur tinggal, Cecep Suganda, membantah kata-kata Gafur, bahwa ia selalu membayar sebelumnya. Menurut Cecep, Gafur belum membayar 4 bulan.
Kedua:
”Saya mencoba ke Kantor Jawatan Sosial, tetapi mereka mengatakan saya tidak berhak dapat bantuan karena saya menolak tawaran pekerjaan di luar kota. Saya tidak ada pilihan lain, karena tidak punya uang untuk ongkos bis,” kata Gafur.
Sri Sukatni seorang petugas di Kantor Jawatan Sosial, mengatakan bahwa Gafur menolak tiga tawaran pekerjaan, termasuk di sebuah toko, 2 km jauhnya dari jembatan tempat tinggalnya kini.
Ketiga:
”Maka, selama dalam dua minggu terakhir ini, kami tinggal di bawah jembatan, semacam gelandangan,” kata Gafur.
Di kampung Jambe, Kelurahan Karangkobar, Nyi Fatimah, ibu Gafur, tinggal dalam sebuah rumah yang punya 4 kamar. Para tetangga mengatakan bahwa Gafur dan isterinya menyusup ke rumah ibunya segera setelah matahari tenggelam dan tinggal di sana sampai matahari terbit.
OVER ATAU UNDER QUOTE?
Dalam menulis kutipan, banyak problem teknis yang dihadapi. Kebanyakan penulis muda cenderung terlalu banyak mengutip (over-quote) atau terlalu sedikit mengutip (under-quote). Dalam over-quoting, penulis hanya sekadar menyusun kutipan, seraya kadang-kadang menysipkan kata penyambung. Cara pengutipan seperti ini sering tidak bisa diterima. Sedikit orang yang menggunakan kata-kata secara ringkas dalam percakapan. Sebagai penulis, wartawan harus mampu menyampaikan pesan itu dengan lebih jelas dan ringkas dengan cara membuat menjadi kalimat kutipan tak langsung.
Over-quoting juga menghancurkan salah satu tujuan baik dalam pengutipan: menghapuskan kejemuan karena gaya yang sama. Dengan over-quoting, penulis hanya mengganti gaya monoton dirinya dengan gaya monoton seorang lain. Unverquoting juga merusak. Banyak penulis baru yang tidak yakin akan kemampuannya mengambil kutipan, sehingga ia selalu membuat kutipan tidak langsung. Cara ini juga menghilangkan tujuan baik pengutipan
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : jakartapress Group
Teknik Menulis Artikel
12 02 2007Artikel atau yang sering disebut karangan ilmiah populer adalah opinii atau pendapat atau gagasan pribadi seseorang yang sifatnya ilmiah dan disajikan secara populer di media massa, yang meliputi berbagai aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial-budaya dan hankam. Dalam penyajiannya karangan ini mengacu pada metode penulisan yang gampang dimengerti, lugas dan kritis.
Adapun langkah-langkah penulisan artikel adalah:
a. menggali ide
kita harus bisa menuangkan ide-ide kita kedalam artikel hingga tulisanya ialah murni pikiran kita. Dalam menggali ide, kita harus mengunakan pemikiran yang sistematis. Mungkin kita bisa bertanya pada diri kita sendiri apa yang ingin kita sampaikan, lalu mengapa ada masalah muncul dan bagaimana pandangan kita cara menyelesaikan masalah tersebut.
b. Membuat kerangka tulisan secara detail
Kerangka tulisan secara sederhana biasanya bermula dari pendahuluan, pembahasan masalah, kesimpulan. Bisa pula dilengkapi dengan solusi permasalahan.
c. Mengumpulkan data, fakta, referensi dan bahan bacaan
langkah ketiga adalah mencari dukungan opini kita. Ketika kita membuat tulisan tentang budaya freesex yang sedang merajalela, maka kita memerlukan data tentang berapa orang yang pernah melakukan hubungan sex dalam sampel yang kita pilih, berapa frekuensii hubunganya, seberapa sering berganti-ganti pasangan. Lantas kita kemudian mengumpulkan tulisan tentang budaya freesex. Tanpa dukungan dari data-data atau bahan bacaan maka tulisan kita terlihat impoten alias tidak mampu melakukan penetrasi yang lebih mendalam pada otak pembaca.
d. Menulis dengan ekspresi bebas
Langkah terakhir ialah mulai menuliskan semua yang sudah kita dapat. Kita tidak perlu berpikir bahwa menulis itu seperti menjalankan sebuah mesin mekanis yang amat rumit. Jangan pernah mengulur waktu, sebab dengan menunda-nunda akan timbul rasa bosan untuk memulai lagi.
Tulis apa saja yang terbersit dalam pikiran.
e. editing
Setelah semua ditulis barulah kita membaca ulang apa yang sudah kita tulis lalu mengedit dan menyusunya dengan rapi. Periksalah tulisan yang sudah selesai dibuat, dari kesalahan yang terjadi baik kesalahan pada data, kata atau kalimat serta pembahasan yang kurang tajam.
Standar penulisan artikel
- Aktual. Aktualitas ialah prioritas utama. Prioritas bisa dikaitkan dengan momentum yang tengah terjadi di masyarakat, bisa juga dengan momentum sejarah. Misalnya dengan menulis soal kartini menjelang tanggal 21 April.
- Bahasa yang lugas, padat dan tidak bertele-tele. Bahasa yang bertele-tele membuat penyampaian gagasan menjadi kurang menajam. Selain itu dapat pula membingungkan dan memusingkan pembaca sehingga ide yang tersirat gagal ditransformasikan.
- Tulisan mengandung hal yang baru, baik data maupun pandangan. Banyak penulis baru yang berambisi memasukkan nama besar dan pemikiranya dalam tulisan, namun hasilnya tak lebih merupakan kumpulan review atau kutipan belaka. Upayakan juga agar data yang anda gunakan akurat.
- Ide anda orisinil ? Upayakan agar ide opini anda memang orisinil. Hal ini untuk menghindari tuduhan plagiator.
- Tulisan anda tidak terlalu berat dan teoritis. Harus dicamkan, bahwa artikel harus bisa dibaca semua orang. Menulis teknis fisika atom misalnya, jelas tidak akan dimuat. Tapi menulis sumbangan faslsafah atom bagi kemanusiaan kemungkinan besar bisa dimuat.
- Isu dalam tulisan anda belum berlalu dalam mainframe besar. Perhatikan isu-isu besar yang tengah terjadi di masyarakat. Jelas anda sekarang tidak mungkin menulis menulis soal tata cara pemilihan anggota legislatif sebab masa kampanye dan sidang umum telah berlalu.
- tidak terlalu panjang ( max lima halaman).
Syarat penciptaan tulisan yang bermutu.
Menulis ternyata butuh ketrampilan khusus dan latihan secara terus menerus. Untuk menulis opini seseorang harus mempunyai sejumlah kemampuan antara lain bisa merumuskan masalah dengan baik, berbahasa lugas, punya pengetahuan umum yang baik, serta barangkali yang agak penting ialah punya pemahaman filsafat. Muatan tulisan orang yang punya pengetahuan jelas berbeda dengan tulisan orang yang tidak mempunyai pemahaman filsafat.
Pemahaman filsafat ini janganlah diartikan kita akan menjadi filosof seperti plato atau aristoteles. Namun, bagaimana kita mampu menganalisa sebuah masalah dengan pisau bedah yang kita miliki. Pisau bedah itu ialah filsafat. Misalkan bagaimana kita membedah ketimpangan pendapatan antara si kaya dan si miskin dengan teori marxis. atau sikap pemda yang pilih kasih terhadap PKL dan menganakemaskan pembangunan ruko dan supermarket dengan teori strukturalis. Dsb…dsb…
Tapi ingat ! teori hanya sebatas teori. Intinya ialah bagaimana kita mengaplikasikan penggunaan teori atau filsafat untuk menganalisa permasalahan yang kita tuju. So, jangan sampai kita terjebak dalam hanya mengulang secara redaksional teori atau filsafat itu.
Selain itu, pengetahuan dan wawasan juga diperlukan untuk membikin tulisan kita “bernyawa”. Ada banyak cara untuk menambah wawasan kita. Misalnya dengan banyak-banyak membaca buku serta rajin mengikuti diskusi serta mengkomunikasikanya dengan seorang yang berpengalaman. Bila pikiran kita sudah kekeyangan wacana dan informasi maka proses penciptaan tulisan akan semakin ringan.
Setelah itu semua selesai, sajikanlah tulisan kita dengan penuh percaya diri. Jangan pernah beranggapan bahwa tulisan orang lain selalu lebih baik dari tulisan kita. BE YOUR SELF !
Pernak-pernik tentang artikel1. Pendahuluan, diharapkan mampu menampilkan isu yang berkembang saat itu. 2. Disiplin terhadap kerangka tulisan yang dibuat, agar tidak terkesan loncat-loncat. 3. Artikel hanya memiliki satu pikiran utama, dan diikuti oleh beberapa kalimat penjelas. 4. Konsisten menggunakan kalimat aktif. 5. Sesuai dengan gaya penulisan artikel pada media yang akan dituju. 6. Kalimat tidak terlalu panjang, yaitu 17 kata ( untuk SMU ) dan 21-30 kata untuk mahasiswa. 7. Wajib memberikan argumentasi terhadap pendapat yang ditulis yang dapat meyakinkan tentang opini yang kita tulis. 8. Tertulis dengan rapi dan nyaman dibaca. |
Budayakan Menulis
- Menulis adalah bagian dari unsur-unsur belajar (study). Proses belajar tidaklah dilihat dari banyaknya berdiskusi atau membaca buku saja. Namun, bagaimana kita mampu menuangkan itu dalam bentuk dan mensosialisasikan dalam bentuk lain.
- Menulis opini adalah sarana efektif untuk menyuarakan aspirasi atau menyebarkan ide kita. Melalui sebuah media, tulisan kita akan terbaca oleh orang lain. Itu berarti misi penyebaran ide kita sedikit banyak telah terlaksana.
- Rentang waktu untuk menyerap pesan yang disampaikan secara lisan itu sangat singkat. Berdasarkan penelitian kemamp[uan sesorang untuk mengingat pesan maksimal hanya 12 jam. Lewat dari itu, kemungkinan pesan akan hilang hingga 80 %. Sedangkan pesan tulisan dapat diserap dan dipelajari untuk waktu yang lama.
- Pesan tertulis dapat dijadikan dokumentasi yang dapat digunakan kembali jika diperlukan. Dengan kemampuan kits menulis, maka kita tidak hanya belajar untuk menuangkan gagasan dalam bentuk media saja. Namun juga, dengan menulis kita bisa mencatat suatu proses yang terjadi secara aktual dan dapat digunakan untuk dokumentasi.
Tips menulis dengan mudah:
Menulis = membebaskan diri
Setiap orang punya kemampuan menulis. Kemampuan ini ibarat jin yang tersumbat dalam botol Aladin. Karena itu tiap orang perlu berupaya keras membebaskan sumbatan agar potensi menulis melejit keluar.
Menulis = mengekspresikan diri
Hal ini merupakan cara membuang sumbatan botol. Anggaplah di dunia ini hanya anda sendiri. Dan anda bebas mengutarakan apupun tanpa ada orang yang akan menganbcam atau menilainya.
Menulis = menemukan diri
Ini dapat dikatakan mempercepat pembuangan sumbatan botol. Anda akan terdorong sangat keras bila aktivitas menulis di targetkan untuk mengenal diri anda sendiri.
Memiliki catatan harian
Ini untuk menampung semburan potensi menulis. Tulislah apa saja sepanjang hari. Dan terbukti, orang yang sering mengungkapkan isi hatinya pada buku harian, mampu menghasilkan tulisan yang nyaman dibaca.
Kebiasaan menulis = menangkap ide
Seringkali kita menghadiri sebuah diskusi dimana banyak ide-ide berloncatan. Maka amat berguna sekali kalau kita mencatatnya sebagai investasi ide yang siap di”blow up”. Dan bisa juga dijadikan dokumentasi yang berisi kumpulan informasi yang bisa dipanggil setiap saat kita membutuhkanya.
Langkah-langkah penulisan sebuah artikel :
1. Menentukan topik tulisan
Topik harus memiliki nilai yang aktual, sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di masyarakat.
2. Membuat kerangka tulisan secara detail
Kerangka tulisan secara sederhana biasanya bermula dari pendahuluan, pembahasan masalah, kesimpulan. Bisa pula dilengkapi dengan solusi permasalahan.
3. Pengumpulan data, fakta dan kepustakaan penunjang berdasarkan kerangka tulisan.
4. Memeriksa tulisan yang sudah selesai dibuat, dari kesalahan yang terjadi baik kesalahan pada data, kata atau kalimat serta pembahasan yang kurang tajam.
* Agung Sedayu
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : jakartapress Group
Sepuluh Jurus Menulis Berita Ekonomi & Bisnis
12 02 2007Oleh Purwanto Setiadi
Pengantar
Berita ekonomi dan bisnis, bagi negara seperti Indonesia, terus
menempatkan diri pada posisi yang semakin penting. Dan pers bertambah
sadar bahwa berita ekonomi dan bisnis bukanlah subjek yang sebaiknya
ditempatkan di halaman tersembunyi. Berita ekonomi dan bisnis
mempengaruhi siapa pun, dari bankir hingga mereka yang membeli roti
atau beras di pasar. Simak apa kata sebuah koran terkemuka di Nigeria
tentang berita ekonomi dan bisnis:
Sejak Program penyesuaian struktur ditetapkan sebagai langkah besar
pertama dalam usaha pemerintah untuk mengubah keadaan ekonomi,
istilah-istilah seperti Pasar Valuta Asing Lapis Kedua, pembayaran
utang, penjadwalan kembali utang, pasar otonom, dll. menjadi rutin
terbaca oleh warga biasa
Nigeria. Namun ada dua masalah dasar
menyangkut berita-berita ekonomi dan bisnis. Yang kerap muncul adalah:
Satu, rumit; dan Dua, menjemukan. Penulis pada koran terkemuka
Nigeria tersebut benar tentang makin sadarnya warga
Nigeria pada
isu-isu ekonomi. Namun bisa dipastikan kebanyakan warga
Nigeria sudah
jemu pada program dan lembaga yang disebutkannya – setidaknya
dibandingkan dengan skandal-skandal politik yang tengah terjadi. Yang
terutama menjadi penyebab adalah rumitnya berbagai program dan lembaga
itu.
Istilah seperti Pasar Valuta Asing Lapis Kedua mungkin sudah menjadi
buah mulut warga
Nigeria kebanyakan, tapi mudah disangsikan banyak
dari mereka – bahkan profesional terdidik sekalipun – yang memahami
artinya. Seperti halnya orang di mana pun, kebanyakan warga
Nigeria
tak belajar menjadi ekonom.
Jadi, apa tujuan seorang wartawan ekonomi dan bisnis?
Jelas, yang terutama ingin dicapainya adalah melaporkan berita
seakurat mungkin – sebuah misi luar biasa penting pada subjek yang
memungkinkan seseorang kehilangan keberuntungan hanya karena salah
meletakan titik atau koma pada deretan angka. Namun jika berita
ekonomi dan bisnis pada hakikatnya kerap rumit dan membosankan, ada
tujuan lain yang tak kalah utamanya – menjadikan berita ekonomi dan
bisnis:
Satu, bisa dipahami; dan Dua, menarik. Kedua tujuan itu sama
pentingnya baik di Lagos, di Lahore, di London, maupun
Los Angeles.
Bagaimana kita bisa membuat berita ekonomi dan bisnis mudah dipahami?
Ada seorang redaktur yang, suatu ketika, mengatakan wartawan ekonomi
dan bisnis yang baik harus mengikuti tiga aturan. “Yang pertama,
“katanya, “adalah menjelaskan. Yang kedua….. menjelaskan. Yang
ketiga…..” – kita pasti bisa menebaknya.
Tapi sebelum wartawan bisa menjelaskan kepada orang lain, mereka
sendiri harus memahami apa yang harus dijelaskannya. Dan untuk
memahami, kerap mereka harus mengakui bahwa mereka memang tak tahu.
Ini tak mudah.
Wartawan tergolong yang gengsian. Kalau kita benar wartawan, kita
pasti tahu ini. Tak seorang pun mau mengakui kebodohan mereka,
terutama bila seorang pejabat pemerintah atau seorang penting lainnya
memanfaatkan peluang itu untuk menyepelekan. Tapi wartawan,
bagaimanapun, adalah komunikator, bukan ahli yang tahu segala hal; dan
wartawan berkewajiban menyampaikan (berita) kepada pembacanya. Jika
wartawan tak paham, pembaca pun tak akan bisa mencerna apa yang
disampaikan. Jangan biarkan gengsi membuat lidah kita erat mengatakan,
“Maaf, saya tak paham. Bisakah Anda menjelaskannya pada saya?”
Benar, seorang wartawan perlu memperhitungkan pembacanya ketika
menulis berita, dan tak ingin menyepelekan. Namun lebih banyak
penjelasan biasanya lebih baik ketimbang hanya sedikit. Pembaca yang
cangih sekalipun perlu disegarkan ingatannya tentang konsep-konsep
ekonomi. The Wall Street Journal bisa menjadi salah satu koran
terlaris di AS, tanpa kehilangan prestisenya, sedikit pun, karena
menyajikan berita ekonomi dan bisnis dengan penjelasan-penjelasan bagi
pembaca yang bukan ekonom dan ahli bisnis. Tujuan Journal ekonomi dan
bisnis – bukan mengecualikan mereka, seolah-olah bisnis adalah semacam
kelab terbatas.
Setelah membuat berita ekonomi dan bisnis bisa dipahami, bagaimana
kita menjadikannya menarik? Jawaban pendeknya adalah: Pusatkan sedikit
saja pada statistik dan lebih banyak pada orang. Yang menjadi alasan
orang di mana pun untuk lebih memilih berita tentang skandal politik
mutahir ketimbang berita tentang pasar “Pasar Valuta Asing Lapis
Kedua” adalah karena berita tentang skandal jelas melibatkan banyak orang.
Ini bukan berarti kita sebaiknya hanya mengejar-ngejar skandal bisnis.
Ekonomi dan bisnis pada dasarnya menyangkut orang. Perubahan ekonomi
mempengaruhi sehari-hari orang. Bisnis penuh dengan drama kemanusiaan
yang mencakup sukses, kegagalan, dan pergulatan antarpesaing untuk
saling menyingkirkan. Tip-tip yang akan disarankan di sini berkaitan
dengan cara mencapai dua tujuan ini: menjadikan berita dan bisnis
mudah dipahami dan manarik. Sejumlah saran yang ada agak tak lazim;
tapi akan baik jika dijadikan sebagai bahan diskusi.
Untuk memberikan ilustrasi disertakan kutipan dari sejumlah koran di
Afrika Barat, India, dan di tempat-tempat lain di negara yang sedang
berkembang. Beberapa kutipan sengaja diringkas karena keterbatasan
ruang atau untuk menghindari dikenalinya koran atau perusahaan yang
bersangkutan. Prinsip dasar jurnalistik bersifat universal. Karenanya,
tip-tip yang disarankan kebanyakan bisa diterapkan di mana pun profesi
wartawan dijalankan. Kepentingan pembaca, bagaimana mereka bisa
memahami dan tertarik pada apa yang kita sajikan, betapapun tujuan
utama kita,
kan?
01. Jangan Berkawan dengan Jargon
Simak kalimat dari laporan sebuah radio ini: Pejabat menyeru
produsen barang-barang industri, konsumsi, dan produk-produk lain di
dalam negeri agar terlibat dalam kampanye pengunaan bahan-bahan dasar
dari dalam negeri.
Gaya sangat akrab. Tapi apa maksudnya? Dalam bahasa sederhana, pejabat
itu semata mendesak agar industriwan dalam negeri mengunakan
bahan-bahan mentah dari dalam negeri. Jadi, mengapa si wartawan tak
mengatakaan begitu?
Sayang, banyak wartawan terlalu kerap tergelincir ikut memamerkan
jargon-jargon yang memusingkan dari ekonom, bankir, dan pejabat
pemerintah ketimbang mengunakan bahasa yang digunakan banyak orang
dalam percakapan sehari-hari. Bagi ekonom, jargon-jargon itu bukan
masalah; mereka saling memahaminya – atau setidaknya berpura-pura
begitu. Sebaiknya, bagi pembaca kebanyakan, jargon ekonomi
membingungkan dan membosankan.
Istilah-istilah sulit serupa itu bisa tercetak karena begitu mudahnya
mengulang kata-kata birokrat, ekonom, bankir, atau siaran pers
ketimbang menerjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari. Wartawan pun
kadang-kaang senang pamer kepada pembaca, dan mereka percaya jargon
akan dilihat sebagai tanda kemajuan pendidikan dan kecerdasan mereka.
Namun sering wartawan sendiri tak paham apa yang dimaksud dengan
jargon tertentu dan karenanya merasa aman untuk menuliskannya tanpa
perubahan sedikit pun. Meski sulit mernerjemahkan jargon ke dalam
bahasa biasa, wartawan harus berusaha melakukannya. Tujuannya:
pengguna bahasa sederhana untuk soal-soal yang ruwet. Idealnya,
gunakan kalimat pendek, sedikit kata.
Bila berlebihan, penyederhanaan memang berbahaya. Namun bisanya
penyerdehanaan bisa dilakukan dengan selalu berhenti dan bertanya apa
yang sesungguhnya dimaksud sesuatu jargon. Jika mungkin, teknik
terbaik adalah menanyakannya kepada penceramah yang mengatakannya agar
meringkaskaan apa yang dimaksudnya ke dalam bahasa sehari-hari.
Birokrat sering mengunakan jargon karena mengatakan sesuatu secara
sederhana akan terlalu blak-blakan. Simak laporan dari sebuah surat
kabar Cina ini:
Cina harus berusaha mati-matian menyesuaikan struktur industrinya
untuk memastikan penggunaan dan pengerahan sumber-sumber ekonomi
secara rasional, kata seorang ekonom di
Beijing akhir pekan lalu.
Kepada peserta sebuah simposium internasional ia mengemukakan
kontradiksi struktural masih berlangsung di dalam industri Cina.
Paragraf tersebut penuh eufemisme. Bila seorang ekonom berbicara
tentang “pengunaan rasional” dari “sumber-sumber ekonomi”, biasanya
mereka bermaksud mengatakan perlunya pengurangan jumlah pekerja -
atau, lebih terus terang, memberhentikan pekerja. Jika ini memang yang
dimaksud, katakan saja demikian. Dan apa yang dimaksud pembicara itu
ketika mengatakan “kontradiksi struktural” masih berlangsung di dalam
industri Cina? Jika mungkin tanyakan.
Hindarkan pula pengunaan akronim yang membingungkan bila menyebut
nama organisasi atau sesuatu program. Bahkan pada penyebutan kedua,
kerap lebih jelas dengan menuliskan nama lengkapnya atau sebagian
saja–misalnya Barito ketika menyebut untuk kedua kalinya nama Barito
Pasific Timber, ketimbang menyingkatnya menjadi BPT. Wartawan sering
ngotot beralasan sesuatu jargon sudah lazim di sesuatu
tempat–misalnya “integrasi ke belakang” di Nigeria – sehingga “
setiap orang tahu apa artinya”. Namun bila diminta menjelaskannya,
sering terbukti bahwa setiap orang memang tahu kecuali sang wartawan.
Itulah tanda bahwa wartawan telah menjadi korban bahaya jargon
ekonomi, terlalu sering mendengarkannya sehingga seperti sudah lazim.
Reporter harus terbiasa untuk terus menerus bertanya: Bisakah ini
dikatakan secara lebih jelas?
02. Definisikan Istilah Ekonomi
Bila tak bisa menghindarkan jargon ekonomi, definisikan. Beberapa
istilah ekonomi memang punya arti khusus yang jika ditanggalkan bakal
membingungkan. Namun ingat, bagi banyak orang, istilah-istilah itu
masih merupakan kode kata-kata yang misterius; Wartawan harus
memecahkannya. Ini ringkasan dari sebuah artikel di halaman depan
Daily Times, sebuah koran
Nigeria:
Suku bunga antarbank, yang relatif stabil dalam tiga bulan terakhir,
melonjak tiga persen pekan lalu….
Di bagian tengah berita yang sama, sang reporter menulis:
Suku bunga antarbank adalah suku bunga pinjaman yang diberlakukan oleh
bank kepada bank lain dan biasanya menjadi faktor dasar yang
dipertimbangkan oleh bank dalam menetapkan suku bunga pinjaman
nasabahnya…..
Bravo! Tanpa definisi yang sangat membantu itu, tulisan tersebut
jelas akan menjadi tak berarti bagi banyak pembaca yang buta suku
bunga antarbank. Definisi seperti itu sangat jarang ada dalam
berita-berita bisnis.
Beberapa wartawan mengatakan bahwa definisi boleh-boleh saja untuk
berita halaman depan sebuah koran umum, tapi pembaca halaman bisnis
atau publikasi bisnis sudah sangat kenal dengan istilah-istilah ekonomi.
Mungkin. Tapi The Street Journal, yang pembacanya adalah kelompok yang
cukup canggih, mendefinisikan bahkan istilah-istilah ekonomi yang
sudah sangat biasa. Misalnya ketika istilah Produk Nasional Bruto
(PNB) pertama kali muncul dalam sebuah berita, ini akan diikuti oleh
penjelasan bahwa PNB adalah “nilai total barang dan jasa yang
dihasilkan oleh sebuah negara”.
Sebelumnya telah dikatakan bahwa seorang wartawan harus berusaha
mengunakan sedikit saja kata. Mendefinisikan, istilah, jelas,
membutuhkan kata-kata ekstrak, Namun kejelasan lebih penting ketimbang
keringkasan. Dan sebuah definisi yang berkepanjangan tak selalu perlu
bila contoh ringkas bisa memperjelas makna sebuah istilah. Contohnya
sebuah berita mungkin menyebutkan sebuah perusahan memberikan
“fasilitas dan tunjagan, seperti cuti tahunan dan asuransi kesehatan”.
Tapi sering definisi panjang dibutuhkan. Sebuah koran
Nigeria memuat
artikel tentang pro kontra terhadap “konversi utang” – tanpa sekalipun
mendefinisikannya! Sebuah penjelasan sederhana mungkin menyatakan:
“Konversi utang adalah skema pembebasan Nigeria dari utangnya cara
menukar utang dengan saham perusahaan-perusahaan
Nigeria.”
Definisi objektif itu kelihatan mudah, tapi sesunguhnya sulit
dituliskan. Itulah sebabnya reporter atau media masa tempat mereka
bekerja harus membuat definisi yang bisa dengan mudah dikutip dan
disisipkan ke dalam sebuah berita bila suatu istilah dipakai. Daftar
serupa ini, tentu saja, tak mungkin diciptakan dalam semalam; ini akan
berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Beberapa istilah yang biasa dipakai pijakan: neraca pembayaran, suku
bunga utama, Dana Moneter Internasional, devaluasi, swastanisasi,
Perjanjian Umum tentang Perdagangan dan Tarif atau GATT, dll.
03. Gunakan Statistik secara Seletif
Berita bisnis biasanya mengandung terlalu banyak angka. Meski angka
yang penting bisa menjadikan berita lebih berwibawa dan akurat,
wartawan harus meninggalkan angka-angka yang tak penting benar. Ini
tampaknya saran yang ganjil bagi wartawan bisnis, yang bahan mentahnya
kerap semata berupa angka dan stasitik. Namun memang banyak pembaca
yang memandang angka terlalu kering dan sulit dicerna. Coba tanya
seseorang yang telah berusaha keras membolak-balik beberapa halaman
tabel stasistik. Akibatnya, sebuah berita dengan begitu banyak angka
menjadi–tebak sendiri–membosankan dan sulit dipahami. Simak kutipan
dari sebuah koran Cina ini:
Meski lebih dari 13 juta sepeda buatan Cina kini menumpuk di
gudang-gudang, para produsen menaruh harapan pada kemungkinan bakan
melonjaknya pasar dunia. Dari Januari hingga September tahun ini Cina
mengekspor 1,6 juta sepeda senilai 67 juta dolar AS: 72 persen lebih
tinggi dan dengan nilai 87, 8 persen lebih besar ketimbang periode
yang sama tahun lalu. Pada September sendiri, menurut sebuah laporan
statistik dari dinas Bea dan Cukai, Cina mengekspor 294 ribu sepeda
senilai 11 juta dolar. Tahun lalu Cina memproduksi lebih dari 40 Juta
sepeda, 2,53 juta di antaranya diekspor. Sepeda yang diekspor setiap
tahunnya merupakan lima persen dari total produksi Cina.
Keempat paragraf tersebut begitu padat – bahkan terlalu
padat-informasi. Seorang pembaca yang telah menelusur di halaman
koran itu mungkin akan membacanya, lalu menyerigai ketika kepalanya
mulai berusaha keras merayap data yang ada. Dibombadir oleh
angka-angka itu siapa pun akan cenderung membuka halaman lain. Disini
wartawan sebetulnya perlu memilih sedikit saja statistik yang akan
lebih tepat mendukung penegasannya bahwa produsen sepeda di Cina
berharap ekspor akan meningkat penjual. Jika perlu, tambahan informasi
yang bersifat statistik bisa dimasukan menjelang bagian akhir berita,
khusus untuk pembaca yang tertarik pada detail. Dengan mengangkat
begitu banyak angka di bagian atas berita, sang wartawan telah memaksa
banyak pembaca enggan menyimak isi berita selebihnya.
Mengapa wartawan begitu kerap membebani berita dengan banyak
statisitik? Hanya ada satu jawaban: mereka menunjukan kepada pembaca
(atau redaktur) bahwa mereka menempuh segala kesulitan untuk
mendapatkannya. Karena telah mencatat statistiknya, sang wartawan
ingin menumpahkan seluruhnya ke dalam berita. Namun karena membekukan
benak pembaca, statistik sebaiknya digunakan secara selektif. Pembaca
umum tak membutuhkan seluruh data–dan pembaca ahli–biasanya sudah
punya sendiri.
Sebuah artikel istimewa dalam sebuah majalah Nigeria melaporkan
bagaimana produksi pertanian Nigeria merosot begitu pemerintah
berusaha mengurangi impor makanan. Di tengah artikel, dilaporkan bahwa:
Angka produksi jagung sebesar 694 ribu ton pada 1983, 1,05 juta pada
19984, 1,01 juta pada 1985, dan 1,3 juta pada 1986. Pada 1987 angkanya
turun menjadi 1,2 juta ton, lebih kecil 10 persen dibandingkan
produksi pada tahun sebelumnya. Kecenderungannya sama untuk
padi-padian. Angka produksi tercatat 2,7 juta ton pada 1983, 3,3 juta
ton pada 1984, 4,1 juta pada 1986, dan 3,9 juta pada 1987…
Dan seterusnya, hingga tiga hasil pertanian lainnya -sorgum, yam, dan
singkong. Meski mendukung apa yang dikemukan wartawan, daftar
statistik lengkap ini memacetkan ‘nyawa’ berita. Karena berita bukan
karya akademik, banyak pembaca akan puas hanya dengan satu contoh:
“Misalnya, produksi jangung merosot 10 persen menjadi 1,2 juta ton
pada tahun 1987.”
Jika reporter dan redaktur mengira bahwa kepada pembaca perlu
disajikan seluruh data yang ada, pemanfaatan bagan dan tabel akan
lebih tepat -lebih mencuri perhatian dan mudah di pahami. Terkadang
wartawan seperti nyaris terobesisi oleh angka, misalnya ketikan mereka
melaporkan nomor polisi kendaraaan atau nomor cek suatu bank. Di
negara yang pemerintahnya kerap mempertanyakan akurasi pers, mungkin
ini perlu. Tapi biasanya informasi semacam ini tak menambah banyak
peran pada berita kecuali menunjukan – sedikit berlebihan – bahwa sang
wartawan benar-benar melakukan telah tugas.
Bila memang dipakai, angka terkadang bisa dibuat sesederhana mungkin
dengan cara membulatkannya atau memakai pendekatannya. Jelas, dalam
beberapa segi pelaporan kegiatan bisnis, ketepatan sangat diperlukan;
untuk harga saham dan komoditas, misalnya, fluktuasi sedikit saja
sangat berarti. Tapi pada banyak keadaan seorang reporter cukup
mengatakan “kira-kira separo” ketimbang “49 persen” atau “hampir lipat
tiga” ketimbang “naik 295 persen”.
Dalam berita tentang sepeda Cina, umpamanya, sang reporter cukup
mengatakan nilai ekspor naik “hampir 90 persen” ketimbang “87,8
persen”. Ekonom memang perlu tahu angka persisnya. Pembaca koran
seringkali tidak.
04. Bandingkanlah setiap Statistik
Bila kita memang mengutip statistik dalam sebuah berita, akan baik
bila kita menempatkannya dalam konteks dengan cara membandingkannya
dengan hal lain. Sebuah angka tak akan berarti apa-apa bila berdiri
sendiri; maknanya yang sebenarnya muncul dari nilai relatifnya.
Sebagai acuan, selalu ajukan pertanyaan ini pada diri sendiri,
terutama bila hendak membubuhkan angka pada berita yang tengah
ditulis: Dibandingkan dengan apa? Ini kebiasaan baik.
Banyak statistik bisa dibandingkan dengan statistik yang sama dari
periode lain-umpamanya tahun lalu. Angka-angka itu pun bisa
dibandingkan dengan statistik yang sama dari tempat lain-misalnya
negara tetangga atau perusahaan pesaing. Jika angka yang dimaksud
mewakili hanya sebagian dari suatu keseluruhan-misalnya laba satu
divisi sebuah perusahaan-nilai relatifnya bisa ditunjukkan dengan
menyodorkan prestaasenya dari angka keseluruhan. Ini lead berita
halaman depan sebuah kora Nigeria:
Pemerintah federal membelanjakan 905,8 juta naira, 94,2 juta naira
lagi dari 1 milyar naira, untuk menerapkan pelebaran skala gaji April
lalu.
Setiap Warga Nigeria tahu lebih dari 900 juta naira adalah jumlah yang
sangat banyak, lebih banyak ketimbang yang bisa dibayangkan siapapun.
(pada saat berita itu diterbitkan nilainya kira-kira setara dengan 130
juta dola AS.) Tapi berapa banyak itu, secara relatif?
Pelebaran skala gaji – o ya, istilah ini tak pernah dijelaskan dalam
tubuh berita – merupakan kenaikan gaji pegawai pemerintah untuk
seluruh tingakatan. Jadi, sang reperter harus bertanya: Bagaimana
905,8 juga naira itu dibandingkan dengan jumlah yang dibelanjakankan
pemerintah federal untuk gaji pegawai pemerintah pada tahun
sebelumnya? Bagaimana bila dibandingkan dengan jumlah seluruhnya yang
dibayarkan pemerintah lokal kepada pegawainya? Mungkin lebih penting,
berapa persen 905, 8 juta naira itu dari seluruh anggaran pemerintah
federal?
Berita tersebut tak menjelaskannya. Dengan menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu – atau yang lainnya – jumlah 905,8 juta
naira bisa memberikan makna yang lebih berarti.
Sebuah laporan dari kantor berita mengemukakan proyek penamanan gandum
di suatu wilayah sebuah negara Afrika Barat, bagian dari usaha
pemerintah untuk meningkatkan produksi gandum. Berita ini mengemukakan
banyak pertanyaan sekaligus jawaban.
Sebuah lahan seluas 225 ha dilaporkan tengah ditamami. Jika
dibandingkan, luaskah tanah itu? Bagaimana bila dibandingkjan dengan
lahan yang sudah ditanami di wilayah itu? Secara nasional? Bagaiamana
dibandingkan dengan luas lahan yang ditanami segala jenis tanaman?
Seorang pejabat mengatakan kepada sang reporter pemerintah akan
membayar petani jumlah tertentu utuk sekarung gandum. Bagaimana bila
dibandingkan dengan tahun lalu? Bagaimana pula dibandingkan dengan
jumlah yang akan dibayarkan pemerintah sekarung Jagung?
Jelas, besarnya ruang membatasi banyaknya perbandingan yang bisa
disajikan dalam sesuatu berita. Dan stastistik yang di pakai sebagai
bandingan pun tak selalu tersedia. Namun bila statistik itu bisa
diperoleh–kerap hanya dengan bertanya kepada sumber berita–informasi
tambahan akan memberikan makna tambahan pula.
Terkadang seorang wartawan bisa menghidupkan angka dengan menyajikan
dalam suasana keseharian, atau yang bersifat manusiawi. Berita tentang
proyek gandum tersebut di atas melaporkan proyek pertanian bakal
menanen 20 ribu ton gandum. Siapa pun tahu ini jumlah yang banyak.
Tapi berapa banyak potong roti yang bisa dibuat darinya? Bisa memenuhi
kebutuhan makan berapa banyak keluarga?
05. Ceritakanlah Statistik
Tapi bahkan membandingkan statisitik pun biasanya tak cukup. Seorang
wartawan perlu melakukan hal lain ketimbang sekedar melaporkan angka.
Ia harus menjelaskan nilai pentingnya dan mengatakan maknanya. Dan
ini kerap tak sangat jelas. Perhatikan lead yang dikutip dari sebuah
berita tentang impor mobil di Nigeria ini: Arus masuk beragam jenis
kendaraan bekas dan baru ke pelabuhan Lagos rata-rata per bulan
mencapai angka tertinggi, demkian temuan sebuah penyidikan khusus.
Dari rata-rata 148 kendaraan sebulan pada tahun 986 jumlahnya naik
menjadi 1.48 kendaraan sebulan pada tahun 1986 jumlanya naik menjadi
1.431 kendaraan sebulan sebelum pada 1990, menjadikan jumlah
seluruhnya pada paro pertama tahun ini 8.581 kendaraan. Tahun lalu
1.253 kendaraan diimpor, rata-rata perbulan 1.104 kendaraan. Pada
1988 jumlah seluruh impor lewat pelabuhan Lagos mencapai 7.820 atau
rata-rata per bulan 652 kendaraaan.
Bisa dilihat beriota itu tak sekedar melaporkan angka-angka impor pada
1990. Penulisnya menempatkannya pada konteks dan memperlihatkan nilai
pentingnya dengan membandingkannya engan angka-angka tahun-tahun
sebelumnya. (Namun berita itu, sungguh, mengambil resiko membuat
pembaca letih oleh terlalu banyaknya angka pada tiga paragraf pertama.)
Bagaimana kita menjadikan sajian statistik yang bermanfaat itu
sebagai sebuah berita yang bermakna? Perbandingan antar-tahun tak
cukup untuk mengungkapkan seluruh cerita di balik stastistik.
Wartawan harus berhenti sejenak, mencermati seluruh angka di
hadapannya, dan bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang sesungguhnya
terjadi di sini?
Menyimak data mentah akan terlihat bahwa pada 1990 impor kendaraan
meski secara rata-rata tergolong paling tinggi, mulai menurun pada Mei
dan terus merosot hingga Juni dan Juli. Apa yang sesungguhnya
diperlihatkan statistik ini adalah jumlah impor kendaraan yang
bergerak turun setelah terjadi rekor kenaikan pada awal tahun. Tapi
bahkan simpulan itu tak cukup untuk menjadikan statistiknya sebagai
sebuah berita yang bermakna. Sang reporter perlu bertanya mengapa
kenaikan impor kendaraan diikuti oleh kemorosatan. Jawaban atas
pertanyaan ini: Pasar tampaknya kini mulai beraksi terhadap pembatasan
oleh Pemerintah Militer Federal lewat undang-undang tarif bea masuk
bagi barang-barang impor.
Mengapa pemerintah memberlakukan pembebatasan? Karena impor mengancam
kelangsungan pabrik perakitan kendaraan di dalam negeri. Itu berarti
perbandingan stastistik lebih lanjut bisa dilakukan: Bagaimana
kenaikan dan penurunan impor kendaraan dibadingkan dengan angka-angka
produksi di dalam negeri? Ada saling pengaruh?
Dengan bertanya–dan menjawabnya–sang reporter bisa menjelajah
dimensi lain selain sekedar melaporkan angka, dan karenanya menjadikan
stasistik yang ada sebagai sebuah berita yang bermakna. Dan arti
itulah yang harus ditempatkan di beberpa paragraf pertama, bukan
angkanya. Dihadapkan pada stastistik kasar, seorang wartawan harus
bertanya: Apa ini artinya? Jawabannya atas pertanyaan ini lebih
penting bagi pembaca ketimbang angka-angka yang memunsingkan
06. Cari Sisi lain
Tak ada prinsip utama yang dasar dalam jurnalistik ketimbang meliput
dari dua sisi. Tapi betapa seringnya ini dilupakan – atau diabaikan -
dalam berita-berita bisnis. Sering seorang reporter menerima
pemberitaan rutin sebuah perusahaan, menuliskan beritanya – dan, ya,
itu saja. Atau reporter itu mendapatkan informasi rahasia tentang
rencana sebuah perusahaan dan segara menuliskanya.
Namun biasanya ada segi lain pada berita-berita seperti itu, dan tak
jarang banyak segi. Meski seluruh informasi yang dibutuhkan seorang
reporter tampaknya sudah di tangan, bila hanya satu saja sumber
informasi, jarang diperoleh gambaran yang lengkap pada sesuatu hal.
Reporter harus selalu bertanya-tanya. Perhatikan lead dari sebuah
berita di koran Thailand ini:
Major Group, yang menangani iklan bagi delapan produsen film
internasional untuk pasar Thailand, kini tengah memmpertimbangkan
niat untuk meninggalkan semua kliennya karena terlibat konflik serius,
kata sebuah sumber.
Dengan menyebutkan sumber tersebut diwawancarai secara ekslusif berita
itu menambahkan bahwa para produsen film membayar Major komisi sebesar
enam persen dari pendapatan d pasar Thailand kerena sepinya penonton.
Major beraksi dengan membatalkan promosi. Sumber dari Major itu
mengatakan komisi enam persen sama sekali tak cukup untuk menutup
biaya promosi dan “delapan persen memungkinkan pengiklan lebih efektif”
Apa yang hilang di sini? Komentar dari para produsen film, tentu
saja. Betul, sang wartawan mendapatkan berita bisnis bagus yang
ekslusif. Tapi berita itu hanya bergantung pada sebuah sumber. Sang
wartawan perlu mendapatkan sisi atau sumber lain–atau setidaknya
menunjukkan bahwa para produsen film tak bisa dihubungi untuk dimintai
komentarnya, atau memang tak mau berkomentar.
Tujuannya: keberimbangan, dan gambaran yang lebih jelas bagi pembaca.
Tak ada reporter yang benar-benar objektif. Dengan memilih apa yang
benar-benar objektif. Dengan memilih apa yang menarik dalam suatu
berita – atau bahkan berita apa yang akan ditulis – seorang reporter
sudah memihak. Itulah sebabnya kita harus berusaha mati-matian untuk
bersikap adil kepada semua pihak.
Dua koran India melaporkan perundingan ekonomi antara India dan AS
mengenai apa yang oleh AS disebut Undang-undang Super-301.
(Celakanya, tak satu pun koran itu yang menjelaskan atau
mendefinisikan Super-301, yang menentukan produser bagi AS untuk
membalas apa yang dipandangnya sebagai pembatasan perdagangan tak adil
oleh negara asing.)
Sebuah tulisan, dengan mengemukakan pokok-pokok pandangan AS,
melaporkan kedua negara hampir terperangkap kemacetan dan India
seperti akan tetap berada dalam daftar hitam AS karena dituduh
menerapkan pembatasan perdagangan.
Tulisan yang lain, seraya mengemukakan pokok-pokok pandangan India,
melaporkan bahwa AS memahami dengan lebih baik posisi India meski
tetap ada perbedaan-perbedaan di antara kedua pihak
Kedua cara memperlakukan berita itu sah. Tapi tak satu pun
diantaranya yang memberikan sajian secara adil pandangan pihak lain.
Tulisan yang mengemukakan pokok-pokok pandangan AS melaporkan komentar
menteri keuangan India, tapi membenamkannya di bagian belakang.
Tulisan yang satunya tak menyajikan sama sekali posisi AS.
Kadang-kadang ‘keberpihakan’ serupa itu bukan timbul akibat
kecerobohan atau kemalasan reporter tapi karena adanya “tekanan” dari
luar – dari sebuah perusahaan, atau pemasang iklan. (Ada pula,
terkadang, “tekanan” dari dalam, dari pemilik koran yang tak ingin
kepentingan bisnisnya – atau teman-temannya – dieksploitasi.)
Sayangnya, keadaan keuangan banyak koran memberi peluang pemasang
iklan untuk mendiktekan topik liputan, melemahkan kebebasan editorial.
Wartawan profesional hanya bisa berharap agar penerbitan bisa menahan
“godaan-godaan” untuk menukarkan liputan yang positif demi iklan.
Kalau bukan itu yang terjadi, berita yang hanya menampilkan satu sisi
saja cenderung menimbulkan kecurigaan pembaca bahwa tulisan yang ada
sudah “dibeli” oleh pemasang iklan. Contoh, sebuah majalah bisnis di
sebuah negara pengahsil minyak menurunkan laporan lengkap tentang
usaha perusahaan minyak setempat untuk melindungi lingkungan.
Masalahnya: Sang wartawan tak meminta pendapat kalangan pencinta
lingkungan atau pihak luar lainnya yang berkemungkinan mempersoalkan
pencitraan perusahaan itu sebagai sosok ideal dalam kampanye
perlidungan terhadap lingkungan. Pembaca tak bisa disalahkan bila
bertanya-tanya bahwa ada sisi lain yang tak dilaporkan dan bahwa
liputan itu dipengaruhi oleh perusahaan-perusahan tersebut. n
07. Memanusiakan Berita Bisnis
Berita bisnis memang berhubungan dengan angka. Namun lebih dari itu,
ia sekaligus juga menyangkut manusia. Bukan sekedar pejabat
pemerintah dan eksukutif bisnis dan bankir dan ekonom, tapi manusia
nyata–lelaki dan perempuan yang menjadi konsumen dan pembayar pajak.
Ini begitu sering dilupakan oleh wartawan bisinis. Misalnya, sebuah
majalah bisnis di India memuat feature mendalam tentang perebutan
konsumen dalam industri kripik tentang yang tengah berkembang.
Sejumlah eksukutif di perusahaan snack dikutip–tapi tak satu pun
konsumen pemakan kripik kentang, orang-orang yang diperebutkan oleh
pemain di Industri yang bersangkutan.
Sebuah mingguan bisnis di Nigeria memuat feature panjang tentang
lingkungan kewirausahaan yang berubah di Negara Bagian Katsina.
Laporan ini meliput pula analisis tentang berbagai kebijakan
pemerintah yang dilancarakan untuk mendorong wirausaha mendirikan
bisnis skala kecil–namun terang-terangan mengabaikan suara dan
pengalaman para wirausaha sendiri.
Bandingkan kedua contoh itu dengan lead sebuah tulisan pada majalah
Newswatch tentang kelangkaan koin di Nigeria ini:
Bus itu berhenti di Ojota di luar Lagos. Kendekturnya meloncat keluar,
tapi segera dikepung oleh para penumpang yang membuntutinya turun,
masing-masing dengan tangan terentang, meminta kembaliannya. Kondektur
itu mengabaikan mereka, tapi tetap berpikir keras. Kemudian ia
menghitung mereka, membagi mereka menjadi dua kelompok dan dari tangan
kirinya, yang mengengam tumpukan uang kertas, ia mengeluarkan beberapa
pecahan 1 naira dan 50 kobo. Katanya, kepada tiap-tiap kelompok,
“Kalian bagi ini di antara kalian.”
Tulisan berlanjut dengan menjelaskan betapa kelangkaan itu menyebabkan
bisnis menjadi sulit dan kadang-kadang sampai menimbulkan kerusuhan.
Dianalisisnnya kemungkinan -kemungkinan yang menyebabkan kelangkaan.
Tulisan itu merupakan berita feature yang relatif panjang dengan
banyak ruang untuk memotret drama kemanusiaan. Sebuah contoh yang baik
bagaimana sebuah “lead anekdotal” – cerita ringkas dan khas tentang
orang yang menjadi ilustrasi maksud sebuah berita – bisa merenggut
perhatian pembaca. Mengapa? Karena orang suka membaca sesuatu tentang
orang.
Orang senang membaca drama keberhasilan dan kegagalan dan persaingan.
Mereka senang mendegar suara rata-rata orang dalam kalimat-kalimat
sederhana dan bersifat sehari-hari. (kontras dengan kutipan-kutipan
menjemukan dari para eksutif perusahaan, seperti termuat dalam
siaran-siaran pers.) Mereka suka deskripsi rinci tentang orang dan
peristiwa yang memungkinkan mereka menangkap apa yang sesunguhnya
terjadi, seperti manyaksikan film.
Itu biasanya mungkin dilakukan pada sebuah berita feature yang
panjang. Tapi bahkan dalam berita bisnis yang paling dasar pun
wartawan harus mencari sisi-sisi kemanusiannya. Ini biasanya menjadi
petunjuk bagaimana wartawan mengaitkan sisi berita dari sebuah cerita.
Pembaca biasanya harus bisa menjawab pertanyaan: Bagaiamana berita ini
mempengaruhi saya?
Contoh, seorang pembaca secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan
bisnis bila perkembangan itu berdampak pada harga atau pajak atau
ketersedian barang atau daya beli orang. Setiap berita yang berkaitan
dengan produk konsumsi atau bisnis biasanya punya pengaruh tertentu
tehadap pembaca. Bahkan bila dampaknya tak langsung, pembaca tetap
ingin tahu apa akibatnya terhadap orang lain. N
08. Tunjukkan Makna Berita Bisnis
Bacalah kalimat pertama artikel pada halaman muka sebuah koran
terkemuka ini: Nigeria Air way kini memikul rugi 22 juta naira per
tahun, kata direktur pengelolanya, Mayor Jendral olu Bajowa, kemarin.
Stop Press. Berita besar. Berita halaman depan.
Tapi lalu apa?
Pertanyaan itu harus kerap diajukan ketika membaca berita bisnis. Dan
juga harus diajukan ketika hendak memulai menulis berita bisnis. Bagi
seorang wartawan bisnis, ada kewajiban untuk tak hanya melaporkan apa
yang terjadi atau apa yang dikatakan seseorang, tapi juga menjelaskan
maknanya. Berita harus lulus “uji lalu apa”
Sebuah tulisan berita harus menjelaskan kepada pembaca apa akibat
sebuah peristiwa, mengapa peristiwa itu penting – bagi perusahaan,
bagi angkatan kerja, bagi,industri, bagi negara. Mengapa pula ia
penting bagi pembaca.
Itulah cara terpenting yang memungkinkan wartawan menjadikan sebuah
berita bisnis yang rumit menjadi mudah dipahami. Jelas,
pertanya-pertanyaan itu tak bisa dijawab dalam satu tulisan saja. Tapi
beberapa diantaranya harus. Dan jawabnya harus berada di awal tulisan,
bukan tengelam dalam bagian-bagaian yang semakin tak penting. Sebuah
laporan berita yang baik haruslah melaporkan fakta-fakta penting di
bagian awal, lalu diikuti oleh penjelasan sederhana mengenai maknanya.
Pada berita tentang Nigeria Airways apa yang penting mengenai kerugian
besar perusahan itu? Jelas, kerugian itu mengacam masa depan
perusahaan negara itu dan bisa menimbulkan pergantian menejemen
puncak. Itu juga bisa menimbulkan PHK atau penyitaan
pesawat-pesawatnya di negara lain tempat perusahaan itu berutang biaya
pendaratan. Itu bisa mengacaukan usaha pemerintah untuk
mengkormersilkan Nigeria Airways (tentu harus dijelaskan apa yang
dimaksud “mengkomersilkan”)
Lebih penting lagi, apa makna berita itu bagi pembaca? Mengapa mereka
harus peduli pada kerugian perusahan tersebut? Sebuah perusahaan bisa
mendandani kerugian dengan memotong biaya maupun meningkatkan
pendapatan. Bagaiamana perusahaan tersebut meningkatkan pendapatannya?
Dengan menaikan harga tiket! Kini kita berbicara tentang sesuatu yang
penting bagi pembaca.
Masalah bagi pembaca: Analisis sederhana itu menembus wilayah yang
jauh di luar sekedar fakta dan sampai pada opini dan spekulasi. Namun
wartawan bisa – dan harus – menarik simpulan logis dari peristiwa
tanpa masuk ke dalam opini yang bisa diperdebatkan atau spekulasi yang
tak bisa dipertanggungjawabkan. Di sini wartawan bisa memanfaatkan
pengetahuannya mengenai perkembangan mutahir di industri penerbangan,
atau menghubungi pengamat luar mengenai perkiraan berapa besar harga
tiket harus dinaikan untuk mendandani kerugian 22 juta naira itu.
Analisis itu membatu pembaca memahami berita. Perhatikan contoh ini.
Fakta: Komisaris Allied Industrial Corp. ditahan karena tuduhan
pengelapan. Analisis: Ini bisa memperburuk citra perusahaan dan,
akhirnya, kinerja penjualannya, Opini: karena, demi kepentingan
terbaik perusahaan, komisaris itu harus mundur. Hanya pernyataan yang
terakhirlah yang tak pantas disertakan dalam sebuah berita.
Toh, kalimat itu masih kabur dan perbedaan antara analisis logis yang
tepat dan opini yang berlebihan atau spekulasi tak selalu jelas. Salah
satu cara untuk mengetahui apakah repoter sudah menerobos wilayah
opini yang berlebihan adalah: Bisakah pembaca mengatakan di mana letak
simpati reporter, dipihak mana ia berada? Seorang pembaca harus tak
bisa menjawab pertanyaan ini.
Analis bisa bersifat sederhana. Ingat berita tentang suku bunga
antarbank yang telah disebutkan pada Tip 2?
Suku bunga antarbank, yang relatif stabil dalam tiga bulan terakhir,
melonjak tiga presen pekan lalu……
Tapi reporter tak berhenti disitu:
… menimbulkan isyarat kekhawatiran bahwa biaya pinjamnan bank sekali
lagi begerak naik.
Dengan menambahkan berapa kata tersebut, ada sebuah jawaban bagi
pembaca yang mungkin bertanya : Lalu apa? Reporter harus mengakui
akan ada sejumlah pihak yang tak sependapat dengan analisisnya. Pada
banyak berita akan baik bila disertakan apa yang disebut kalimat atau
paragaraf “sudah barang tentu”. Misalnya: “sudah barang tentu, Nigeria
Air ways bisa menjalani krisis keuangan tanpa memecatat karyawannya
atau menaikan harga tiket.” Pengakuan bahwa ada sisi lain pada isu
Nigeria Airways ini memperkuat kridibelitas tulisan dengan
memperlihatkan reporter telah mempertimbangkan pendangan lain sebelum
menyimpulkan sesuatu.
Beberapa penerbitan dan kantor berita cenderung menjauhkan diri
bahkan dari analisis dasar. Atau wartawan berhadapan dengan kendala
politis. Jika demkian halnya, mereka bisa saja mencari sesorang,
analisis luar atau pejabat terkait, yang bisa memberikan analisis.
Jika pada sebuah konferensi pers reporter hanya berkesempatan
mengajukan satu pertanyaan, tak keliru jika bertanya: Mengapa berita
ini penting? Biarkan sang pembicara menganalisinya sendiri. Tak jarang
hal ini menjadika lead sebuah tulisan.
Tanpa analisis tulisan tak memberikan pemaham yang dibutuhkan pembaca.
Sebuah koran di Cina melaporkan bahwa kantor paten nasional
memperkirakan akan ada 120 ribu permohnan paten hingga November. Lalu apa?
Sebuah berita di koran India tentang sanksi perdagangan Super-301
melaporkan bahwa India berkemungkinan di Blacklist oleh AS. Lalu apa?
09. Jangan Terpaku pada Siartan Pers
Sebuah siaran pers perusahaan atau pemerintah hanyalah sebuah titik
beranjak bagi suatu berita bisnis. Liputan lanjutan biasanya
diperlukan untuk menghidupakannya. Kita perlu juga mewawancari
perusahaan-perusahan pesaing, pengamat luar, konsultan, akademisi,
atau sumber-sumber lain untuk mendapatkan sisi dari berita. (lihat Tip
6). Dan sisi siara pers juga hampir selalu menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan yang mendorong kita untuk melengok langsung
perusahaan yang mengeluarkannya. Mungkin pertanyaan penting adalah -
silakan tebak – “lalu apa?” (lihat Tip 8). Kita bisa menyatakan ini
dalam kalimat yang agak ‘lunak’, seperti: Apa pentingnya pengumuman
ini? Apa dampaknya terhadap perusahaan? Pada angkatan kerja? Pada
industri? Pada negara? Pada pembaca? (Lihat Tip 7.).
Pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin: Dibandingkan dengan apa?
(Lihat Tip 4.) Dalam bahasa sehari-sehari apa yang dimaksudkan dengan
istilah tertentu dalam sesuatu siara pers – jika ada? (Lihat Tip 1 dan
2.).
10. Kail Gagasan-gagasan Baru
Mungkin cara terbaik untuk membuat berita bisnis menarik perhatian
pembaca adalah menuliskan sesuatu yang tak biasa, hal menarik yang tak
dilaporkan penerbitan lain. Dengan mencari sisi baru perkembangan
bisnis. Dengan sudut pandang bisnis pada berita-berita umum. Dengan
melihat sudut pandang kemanusiaan pada berita bisnis. Dengan
mempelajari kecenderungan-kecederungan yang menimbulkan dari – dan
punya arti lebih penting – ketimbang peristiwa-peristiwa tertentu.
Itu jelas menurut penulisan berita feature yang melebar dari sekedar
berita-berita sehari-hari yang bersifat siaran pers atau pengumungan
pendapatan perusahaan. Tujuannya: Untuk mengajak pembaca lebih
menyimaknya ketimbang berita lain pada halaman yang sama – atau justru
berpindah halaman. Gagasan mengenai berita-berita serupa itu kerap
muncul dari rapat-rapat brainstroming dengan redaktur dan repoerte.
Setiap media massa harus mendorong rapat-rapat seperti ini. Inilah
beberapa cara untuk mengali gagasan:
a. Cari sudut pandang bisnis pada berita-berita umum. Banyak hal yang
kini tak bisa lepas dari bisnis, dan mencari sudut pandang bisnis pada
sebuah berita besar berpeluang menarik minat pembaca. Contoh,
pemerintah berencana memberlakukan kartu tanda penduduk yang bersifat
nasional. Siapa yang beruntung menjadi pelaksannya?
b. Perhatikan kecenderungan tertentu. Sebuah peristiwa bisa jadi
memang penting, tapi akan lebih penting bila itu menjadi tanda bagi
sejumlah kecenderungan yang lebih besar. Perhatikan hutannya, jangan
sekedar pohonnya. Contoh, sebuah perusahaan mengumumnkan akan
meluncurkan sabun mandi baru,,. Pengecekan pada sejumlah perusahaan
pesaing buka tak mungkin akan memperlihatakan bahwa ini bagian dari
manuver industri secara keseluruhan, yang terdorng oleh kemasan bahwa
sabun serupa yang dihentikan pembuatannya tak aman digunakan.
c. Cari sudut pandang kemanusiaan. Membaca tentang orang yang sukses
berbisnis adalah hal yang menarik. Contoh, pemerintah berniat menjual
perusahaan-petusahaan milik negara kepada swata (privatisasi).
Bagaimana dengan profil pejabat yang mengetahui program ini? Juga
menarik membaca bagaimana bisnis mempengaruhi orang? Contoh, cerita
tentang seorang karyawan perusahaan yang membeli saham perusahaan
bersangkutan, dan mengapa ia melakukannya?
d. Cari studi kasus yang menjadi ilustrasi sesuatu kecenderungan.
Pembaca menyenangi cerita yang memperlihatkan drama bagaiamana sebuah
perusahaan berusaha, misalnya, untuk mengembangkan produk baru. Hidup
kerap sedramatis fiksi. Peliputan mendalam kerap bisa membangun sebuah
narasi bisnis yang penuh perjuangan, harapan, kekecewaan dan akhirnya,
keberhasilan atau (kegagalan).
Wartawan juga harus mempertimbangkan perluasan definisi tradisional
tentang berita bisnis. The Wall Street Journal telah menambah bagian
yang berisi peliputan-peliputan sisi bisnis kesehatan, ilmu
pengetahuan, hukum, olah raga, hiburan, dan subjek-subjek lain.
Perhatikan pula bahwa bisnis tak selalu mengenai perusahaan besar.
Bisnis skala kecil pun tak kalah penting nya bagai ekonomi suatu
negara dan biasanya melibatkan lebih banyak orang. Berita tentang isu
yang mempengaruhi bisnis skala kecil umumnya banyak dibaca.
Wilayah bisnis lain yang kini berkembang adalah keuangan orang
seorang, yang menjanjikan kepada pembaca saran ahli tentang bagaimana
mengelola uang. Berita-berita demikian ini meliputi subjek-subjek,
seperti jenis investasi baru, praktik penipuan yang merugikan
investor atau perbandingan mengenai insentif yang ditawarkan bank
kepada nasabah
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : jakartapress Group
Teknik Menulis Features
12 02 2007Mengapa feature?
Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga:
· Stright/spot News — berisi materi penting yang harus segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news)
· News Feature — memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat terjadi atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.
· Feature — bertujuan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang menarik tapi tidak selalu penting.
Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya antar media cetak melainkan juga antara media cetak dengan televisi, straight/spot news seringkali tak terlalu memuaskan. Spot news cenderung hanya berumur sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan beberapa jam di televisi. Spot news juga cenderung menekankan sekadar unsur elementer dalam berita, namun melupakan background. Kita memerlukan berita yang lebih dari itu untuk bisa bersaing. Kita memerlukan news feature — perkawinan antara spot news dan feature. Karena tradisi ini relatif baru, kita perlu terlebih dulu memahami apa unsur-unsur dan aspek mendasar dari feature.
Apakah feature?
Inilah batasan klasik mengenai feature: ”Cerita feature adalah artikel yang kreatif, kadang-kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.”
Kreatifitas
Berbeda dari penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan reporter ”menciptakan” sebuah cerita. Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat — karangan fiktif dan khayalan tidak boleh — reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, kemudian setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.
Subyektifitas
Beberapa feature ditulis dalam bentuk ”aku”, sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun banyak reporter, yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya enak dibaca. Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat penulisan dengan gaya ”aku”. Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman begini: ”Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.”
Informatif
Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah Museum atau Kebun Binatang yang terancam tutup. Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.
Menghibur
Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi suratkabar untuk bersaing dengan media elektronika. Reporter suratkabar mengakui bahwa mereka tidak akan bisa ”mengalahkan” wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. Wartawan radio dan TV bisa mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Sementara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian — setelah koran diantar. Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan saingannya, radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in-depth) mengenai cerita yang didengar pembacanya dari radio. Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.
Feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan pertentangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bisa membuat pembaca tertawa tertahan. Seorang reporter bisa menulis ”cerita berwarna-warni” untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.
Awet
Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsur berita yang semuanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali ”punah”, tapi feature bisa disimpan berhari, berminggu, atau berulan-bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ”naskah berlebih” — kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata muka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.
Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mempunyai keuntungan lain. Tekanan deadline jarang, sehingga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mempunyai mutu yang tertinggi. Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cukup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa diperoleh setelah wawancara dengan kawan-kawan sekerjanya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu perwira itu.
Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting — fakta-fakta yang mungkin merangsang emosi (menghibur, memunculkan empati, disampil tetap tidak meninggalkan unsur informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah human interest atau kisah yang berwarna (colourful).
Teknik penulisan feature
Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ”mengisahkan sebuah cerita”. Memang itulah kunci perbedaan antara berita ”keras” (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah.
Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama. Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.
”Piramida terbalik” (susunan tulisan yang meletakkan informasi-informasi pokok di bagian atas, dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah — hingga mudah untuk dibuang bila tulisan itu perlu diperpendek) sering ditinggalkan. Terutama bila urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik.
Jenis-jenis Feature
Feature kepribadian (Profil)
Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dramatik, melalui berbagai liku-liku, kemudian mencapai karir yang istimmewa dan sukses atau menjadi terkenal karena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pencapaian dan tanggal-tanggal penting dari kehidupan si individu. Profil harus bisa mengungkap karakter manusia itu. Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus mengamati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi rumah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka. Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggambarkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga semestinya bisa memberikan kesan kepada pembacanya bahwa mereka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.
Banyak sumber yang diwawancara mungkin secara terbuka bernai mengejutkan Anda dengan mengungkap rahasia pribadi atau anekdor tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk memberikan balans dalam penggambaran si tokoh.
Feature sejarah
Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari peristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pemboman Hiroshima atau pembunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peringatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh. Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah gunung api terjadi, koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu. Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal, pionir, filosof, fasilitas hiburan dan medis, perubahan dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran. Setiap kota atau sekolah memiliki peristiwa menarik dalam sejarahnya. Seorang penulis feature yang bagus akan mengkaji lebih tentang peristiwa-peristiwa itu, mungkin dengan dokumen historis atau dengan mewawancara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah.
Fature petualangan
Feature petualangan melukiskan pengalaman-pengalaman istimewa dan mencengangkan — mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia pengalaman ikut dalam peperangan. Dalam feature jenis ini, kutipan dan deskripsi sangat penting. Setelah bencana, misalnya, penulis feature sering menggunakan saksi hidup untuk merekontruksikan peristiwa itu sendiri. Banyak penulis feature jenis ini memulai tulisannya dengan aksi — momen yang paling menarik dan paling dramatis.
Feature musiman
Reporter seringkali ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar. Contoh yang bisa dipakai adalah bagaimana seorang penulis menyamar menjadi Sinterklas di Hari Natal untuk merekam respon atau tingkah laku anak-anak di seputar hara raya itu.
Feature Interpretatif
Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebuah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Misalnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi terorisme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan terotisme. Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk menangkal perampokan. Atau yang mengungkap lebih jauh tipikal perampok bank, termasuk peluang perampok bisa ditangkap dan dihukum.
Feature kiat (how-to-do-it feature)
Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan. Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya. Reporter yang belum berpengalaman akan cenderung menceramahi atau mendikte pembaca — memberikan opini mereka sendiri — bukannya mewawancara sumber ahli dan memberikan advis detil dan faktual.
Rujukan:
FEATURE WRITING FOR NEWSPAPER, Daniel R. Williamson 1980
REPORTING FOR THE PRINT MEDIA, Fred Fedler, 1989
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : jakartapress Group
Bahasa Jurnalistik Indonesia
12 02 2007Oleh: Goenawan Mohamad
Bahasa jurnalistik sewajarnya didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu. Salah satu sifat dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruangan serta waktu yang relatif terbatas. Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas. Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor.
Di bawah ini diutarakan beberapa fasal, yang diharapkan bisa diterima para (calon) wartawan dalam usaha kita ke arah efisien penulisan.
HEMAT
Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan:
(1) unsur kata
(2) unsur kalimat
Penghematan Unsur Kata
1a) Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tatabahasa dan jelasnya arti. Misalnya:
agar supaya …………….. agar, supaya
akan tetapi …………….. tapi
apabila …………….. bila
sehingga …………….. hingga
meskipun …………….. meski
walaupun …………….. walau
tidak …………….. tak (kecuali diujung kalimat atau berdiri sendiri).
1b) Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari.
Misalnya:
“Keadaan lebih baik dari pada zaman sebelum perang”, menjadi “Keadaan lebih baik sebelum perang”. Tapi mungkin masih janggal mengatakan: “Dari hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang”.
1c) Ejaan yang salahkaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf. Misalnya:
sjah ……… sah
khawatir ……… kuatir
akhli ……… ahli
tammat ……… tamat
progressive ……… progresif
effektif ……… efektif
Catatan: Kesulitan pokok kita di waktu yang lalu ialah belum adanya ejaan standard bahasa Indonesia. Kita masih bingung, dan berdebat, tentang: roch atau roh? Zaman atau jaman? Textil atau tekstil? Kesusasteraan atau kesusastraan? Tehnik atau teknik? Dirumah atau di rumah?
Musah-mudahan dengan diputuskannya suatu peraturan ejaan standard, kita tak akan terus bersimpang-siur seperti selama ini. Ejaan merupakan unsur dasar bahasa tertulis. Sebagai dasar, ia pegang peranan penting dalam pertumbuhan bahasa, misalnya buat penciptaan kata baru, pemungutan kata dari bahasa lain dan sebagainya.
1d) Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek. Misalnya:
kemudian = lalu
makin = kian
terkedjut = kaget
sangat = amat
demikian = begitu
sekarang = kini
Catatan: Dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.
Penghematan Unsur Kalimat
Lebih efektif dari penghematan kata ialah penghematan melalui struktur kalimat. Banyak contoh pembikinan kalimat dengan pemborosan kata.
2a) Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat:
- “Adalah merupakan kenyataan, bahwa percaturan politik internasional berubah-ubah setiap zaman”.
(Bisa disingkat: “Merupakan kenyataan, bahwa …………….”).
- “Apa yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro sudah jelas”.
(Bisa disingkat: “Yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro………..”).
2b) Pemakaian apakah atau apa (mungkin pengaruh bahasa daerah) yang sebenarnya bisa ditiadakan:
- “Apakah Indonesia akan terus tergantung pada bantuan luar negeri”?
(Bisa disingkat: “Akan terus tergantungkah Indonesia…..”).
- Baik kita lihat, apa(kah) dia di rumah atau tidak”.
(Bisa disingkat: “Baik kita lihat, dia di rumah atau tidak”).
2c) Pemakaian dari sebagai terjemahan of (Inggris) dalam hubungan milik yang sebenarnya bisa ditiadakan; Juga daripada.
- “Dalam hal ini pengertian dari Pemerintah diperlukan”.
(Bisa disingkat: “Dalam hal ini pengertian Pemerintah diperlukan”.
- “Sintaksis adalah bagian daripada Tatabahasa”.
(Bisa disingkat: “Sintaksis adalah bagian Tatabahasa”).
2d) Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (Inggris) yang sebenarnya bisa ditiadakan:
- “Uni Soviet cenderung untuk mengakui hak-hak India”.
(Bisa disingkat: “Uni Soviet cenderung mengakui…………”).
- ”Pendirian semacam itu mudah untuk dipahami”.
(Bisa disingkat: ”Pendirian semacam itu mudah dipahami”).
- ”GINSI dan Pemerintah bersetuju untuk memperbaruhi prosedur barang-barang modal”.
(Bisa disingkat: ”GINSI dan Pemerintah bersetuju memperbaruhi…….”).
Catatan: Dalam kalimat: ”Mereka setuju untuk tidak setuju”, kata untuk demi kejelasan dipertahankan.
2e) Pemakaian adalah sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu:
- ”Kera adalah binatang pemamah biak”.
(Bisa disingkat ”Kera binatang pemamah biak”).
Catatan: Dalam struktur kalimat lama, adalah ditiadakan, tapi kata itu ditambahkan, misalnya dalam kalimat: ”Pikir itu pelita hati”. Kita bisa memakainya, meski lebih baik dihindari. Misalnya kalau kita harus menterjemahkan ”Man is a better driver than woman”, bisa mengacaukan bila disalin: ”Pria itu pengemudi yang lebih baik dari wanita”.
2f) Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan, kalau ada keterangan waktu:
- ”Presiden besok akan meninjau pabrik ban Good year”.
(Bisa disingkat: ”Presiden besok meninjau pabrik………”).
- ”Tadi telah dikatakan ……..”
(Bisa disingkat: ”Tadi dikatakan.”).
- ”Kini Clay sedang sibuk mempersiapkan diri”.
(Bisa disingkat: ”Kini Clay mempersiapkan diri”).
2g) Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan:
- ”Pd. Gubernur Ali Sadikin membantah desas-desus yang mengatakan bahwa ia akan diganti”.
- ”Tidak diragukan lagi bahwa ialah orangnya yang tepat”. (Bisa disingkat: ”Tak diragukan lagi, ialah orangnya yang tepat”.).
Catatan: Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:), bila perlu.
2h) Yang, sebagai penghubung kata benda dengan kata sifat, kadang-kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu:
- ”Indonesia harus menjadi tetangga yang baik dari Australia”.
(Bisa disingkat: ”Indonesia harus menjadi tetangga baik Australia”).
- ”Kami adalah pewaris yang sah dari kebudayaan dunia”.
2i) Pembentukan kata benda (ke + ….. + an atau pe + …….. + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, kadang, kadang, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata yang sebenarnya tak perlu:
- ”Tanggul kali Citanduy kemarin mengalami kebobolan”.
(Bisa dirumuskan: ”Tanggul kali Citanduy kemarin bobol”).
- ”PN Sandang menderita kerugian Rp 3 juta”.
(Bisa dirumuskan: ”PN Sandang rugi Rp 3 juta”).
- ”Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya”
(Bisa disingkat: ”Ia telah tiga kali menipu saya”).
- Ditandaskannya sekali lagi bahwa DPP kini sedang memikirkan langkah-langkah untuk mengadakan peremajaan dalam tubuh partai”.
(Bisa dirumuskan: ”Ditandaskannya sekali lagi, DPP sedang memikirkan langkah-langkah meremajakan tubuh partai”).
2j) Penggunaan kata sebagai dalam konteks ”dikutip sebagai mengatakan” yang belakangan ini sering muncul (terjemahan dan pengaruh bahasa jurnalistik Inggris & Amerika), masih meragukan nilainya buat bahasa jurnalistik Indonesia. Memang, dalam kalimat yang memakai rangkaian kata-kata itu (bahasa Inggrisnya ”quoted as saying”) tersimpul sikap berhati-hati memelihat kepastian berita. Kalimat ”Dirjen Pariwisata dikutip sebagai mengatakan……” tak menunjukkan Dirjen Pariwisata secara pasti mengatakan hal yang dimaksud; di situ si reporter memberi kesan ia mengutipnya bukan dari tangan pertama, sang Dirjen Pariwisata sendiri. Tapi perlu diperhitungkan mungkin kata sebagai bisa dihilangkan saja, hingga kalimatnya cukup berbunyi: ”Dirjen Pariwisata dikutip mengatakan………..”.
Bukankah masih terasa kesan bahwa si reporter tak mengutipnya dari tangan pertama?
Lagipula, seperti sering terjadi dalam setiap mode baru, pemakaian sebagai biasa menimbulkan ekses.
Contoh: Ali Sadikin menjelaskan tetang pelaksanaan membangun proyek miniatur Indonesia itu sebagai berkata: ”Itu akan dilakukan dalam tiga tahap” Harian Kami, 7 Desember 1971, halaman 1). Kata sebagai dalam berita itu samasekali tak tepat, selain boros.
2k) Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat dan boros. Dimana sebagai kataganti penanya yang berfungsi sebagai kataganti relatif muncul dalam bahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa Barat.
1) Dr. C. A. Mees, dalam Tatabahasa Indonesia (G. Kolff & Co., Bandung, 1953 hal. 290-294) menolak pemakaian dimana. Ia juga menolak pemakaian pada siapa, dengan siapa, untuk diganti dengan susunan kalimat Indonesia yang ”tidak meniru jalan bahasa Belanda”, dengan mempergunakan kata tempat, kawan atau teman. Misalnya: ”orang tempat dia berutang” (bukan: pada siapa ia berutang); ”orang kawannya berjanji tadi” (bukan: orang dengan siapa ia berjanji tadi).
Bagaimana kemungkinannya untuk bahasa jurnalistik?
Misalnya: ”Rumah dimana saya diam”, yang berasal dari ”The house where I live in”, dalam bahasa Indonesia semula sebenarnya cukup berbunyi: ”Rumah yang saya diami”. Misal lain: ”Negeri dimana ia dibesarkan”, dalam bahasa Indonesia semula berbunyi: ”Negeri tempat ia dibesarkan”.
Dari kedua misal itu terasa bahasa Indonesia semula lebih luwes, kurang kaku. Meski begitu tak berarti kita harus mencampakkan kata dimana sama sekali dari pembentukan kalimat bahasa Indonesia. Hanya sekali lagi perlu ditegaskan: penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, bisa tak tepat dan boros. Saya ambilkan 3 contoh ekses penggunaan dimana dari 3 koran:
Kompas, 4 Desember 1971, halaman I:
”Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) oleh serdadu-serdadu Amerika (GI) dimana konsentrasi besar mereka ada di Vietnam”.
Sinar Harapan, 24 November 1971, halaman III:
”Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini sedang menggarap 9 buah perkara tindak pidana korupsi, dimana ke-9 buah perkara tsb. sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya masih dalam pengusutan.”
Abadi, 6 Desember 1971, halaman II:
”Selanjutnya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dunia dewasa ini masih belum menentu, dimana secara tidak langsung telah dapat mempengaruhi usaha-usaha pemerintah di dalam menjaga kestabilan, baik untuk perluasan produksi ekonomi dan peningkatan ekspor”.
Dalam ketiga contoh kecerobohan pemakaian dimana itu tampak: kata tersebut tak menerangkan tempat, melainkan hanya berfungsi sebagai penyambung satu kalimat dengan kalimat lain. Sebetulnya masing-masing bisa dirumuskan dengan lebih hemat:
- ”Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) serdadu-serdadu Amerika (GI), yang konsentrasi besarnya ada di Vietnam”.
- ”Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini menggarap 9 perkara tindak pidana korupsi. Ke-9 perkata tsb. sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya (sisanya) masih dalam pengusutan”.
- ”Selanjutnya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dewasa ini masih belum menentu. Hal ini secara tidak langsung telah dapat….. dst”.
Perhatikan:
1. Kalimat itu dijadikan dua, selain bisa menghilangkan dimana, juga menghasilkan kalimat-kalimat pendek.
2. ”dewasa ini sedang” cukup jelas dengan ”dewasa ini”.
3. kata ”9 buah” bisa dihilangkan ”buah”-nya sebab kecuali dalam konteks tertentu, kata penunjuk-jenis (dua butir telor, 5 ekor kambing, 7 sisir pisang) kadang-kadang bisa ditiadakan dalam bahasa Indonesia mutahir.
4. Kalimat dijadikan dua. Kalimat kedua ditambahi Hal ini atau cukup Ini diawalnya.
2l) Dalam beberapa kasus, kata yang berfungsi menyambung satu kalimat dengan kalimat lain sesudahnya juga bisa ditiadakan, asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit cukup jelas (logis) untuk menjamin kontinyuitas. Misalnya:
- ”Bukan kebetulan jika Gubernur menganggap proyek itu bermanfaat bagi daerahnya. Sebab 5 tahun mendatang, proyek itu bisa menampung 2500 tenaga kerja setengah terdidik”. (Kata sebab diawal kalimat kedua bisa ditiadakan: hubungan kausal antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas).
- ”Pelatih PSSI Witarsa mengakui kekurangan-kekurangan di bidang logistik anak-anak asuhnya. Kemudian ia juga menguraikan perlunya perbaikan gizi pemain” (Kata kemudian diawal kalimat kedua bisa ditiadakan; hubungan kronologis antara kedua kalimat secara implisit cukup jelas).
Tak perlu diuraikan lebih lanjut, bahwa dalam hal hubungan kausal dan kronologi saja kata yang berfungsi menyambung dua kalimat yang berurutan bisa ditiadakan. Kata tapi, walau atau meski yang mengesankan ada yang yang mengesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.
JELAS
Setelah dikemukakan 16 pasal yang merupakan pedoman dasar penghematan dalam menulis, di bawah ini pedoman dasar kejelasan dalam menulis. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:
1. Si penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan juga pura-pura paham atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.
2. Si penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.
Memahami betul soal-soal yang mau ditulisnya berarti juga bisa menguasai bahan penulisan dalam suatu sistematik. Ada orang yang sebetulnya kurang bahan (baik hasil pengamatan, wawancara, hasil bacaan, buah pemikiran) hingga tulisannya cuma mengambang. Ada orang yang terlalu banyak bahan, hingga tak bisa membatasi dirinya: menulis terlalu panjang. Terutama dalam penulisan jurnalistik, tulisan kedua macam orang itu tak bisa dipakai. Sebab penulisan jurnalistik harus disertai informasi faktuil atau detail pengalaman dalam mengamati, berwawancara dan membaca sumber yang akurat. Juga harus dituangkan dalam waktu dan ruangan yang tersedia. Lebih penting lagi ialah kesadaran tentang pembaca.
Sebelum kita menulis, kita harus punya bayangan (sedikit-sedikitnya perkiraan) tentang pembaca kita: sampai berapa tinggi tingkat informasinya? Bisakah tulisan saya ini mereka pahami? Satu hal yang penting sekali diingat: tulisan kita tak hanya akan dibaca seorang atau sekelompok pembaca tertentu saja, melainkan oleh suatu publik yang cukup bervariasi dalam tingkat informasi. Pembaca harian atau majalah kita sebagian besar mungkin mahasiswa, tapi belum tentu semua tau sebagian besar mereka tahu apa dan siapanya W. S. Renda atau B. M. Diah. Menghadapi soal ini, pegangan penting buat penulis jurnalistik yang jelas ialah: buatlah tulisan yang tidak membingungkan orang yang yang belum tahu, tapi tak membosankan orang yang sudah tahu. Ini bisa dicapai dengan praktek yang sungguh-sungguh dan terus-menerus.
Sebuah tulisan yang jelas juga harus memperhitungkan syarat-syarat teknis komposisi:
a. tanda baca yang tertib.
b. ejaan yang tidak terlampau menyimpang dari yang lazim dipergunakan atau ejaan standard.
c. pembagian tulisan secara sistematik dalam alinea-alinea. Karena bukan tempatnya di sini untuk berbicara mengenai komposisi, cukup kiranya ditekankan perlunya disiplin berpikir dan menuangkan pikiran dalam menulis, hingga sistematika tidak kalang-kabut, kalimat-kalimat tidak melayang kesana-kemari, bumbu-bumbu cerita tidak berhamburan menyimpang dari hal-hal yang perlu dan relevan.
Menuju kejelasan bahasa, ada dua lapisan yang perlu mendapatkan perhatian:
1. unsur kata.
2. unsur kalimat.
1a. Berhemat dengan kata-kata asing. Dewasa ini begitu derasnya arus istilah-istilah asing dalam pers kita. Misalnya: income per capita, Meet the Press, steam-bath, midnight show, project officer, two China policy, floating mass, program-oriented, floor-price, City Hall, upgrading, the best photo of the year, reshuffle, approach, single, seeded dan apa lagi.
Kata-kata itu sebenarnya bisa diterjemahkan, tapi dibiarkan begitu saja. Sementara diketahui bahwa tingkat pelajaran bahasa Inggris sedang merosot, bisa diperhitungkan sebentar lagi pembaca koran Indonesia akan terasing dari informasi, mengingat timbulnya jarak bahasa yang kian melebar. Apalagi jika diingat rakyat kebanyakan memahami bahasa Inggris sepatah pun tidak.
Sebelum terlambat, ikhtiar menterjemahkan kata-kata asing yang relatif mudah diterjemahkan harus segera dimulai. Tapi sementara itu diakui: perkembangan bahasa tak berdiri sendiri, melainkan ditopang perkembangan sektor kebudayaan lain. Maka sulitlah kita mencari terjemahan lunar module, feasibility study, after-shave lotion, drive-in, pant-suit, technical know-how, backhand drive, smash, slow motion, enterpeneur, boom, longplay, crash program, buffet dinner, double-breast, dll., karena pengertian-pengertian itu tak berasal dari perbendaharaan kultural kita. Walau begitu, ikhtiar mencari salinan Indonesia yang tepat dan enak (misalnya bell-bottom dengan ”cutbrai”) tetap perlu.
1b. Menghindari sejauh mungkin akronim. Setiap bahasa mempunyai akronim, tapi agaknya sejak 15 tahun terakhir, pers berbahasa Indonesia bertambah-tambah gemar mempergunakan akronim, hingga sampai hal-hal yang kurang perlu. Akronim mempunyai manfaat: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat.
Dalam bahasa Indonesia, yang kata-katanya jarang bersukukata tunggal dan yang rata-rata dituliskan dengan banyak huruf, kecenderungan membentuk akronim memang lumrah. ”Hankam”, ”Bappenas”, ”Daswati”, ”Humas” memang lebih ringkas dari ”Pertahanan & Keamanan” ”Badan Perencanaan Pembangunan Nasional”, ”Daerah Swantantra Tingkat” dan ”Hubungan Masyarakat”.
Tapi kiranya akan teramat membingungkan kalau kita seenaknya saja membikin akronim sendiri dan terlalu sering. Di samping itu, perlu diingat: ada yang membuat akronim untuk alasan praktis dalam dinas (misalnya yang dilakukan kalangan ketentaraan), ada yang membuat akronim untuk bergurau, mengejek dan mencoba lucu (misalnya di kalangan remaja sehari-hari: ”ortu” untuk ”orangtua”; atau di pojok koran: ”keruk nasi” untuk ”kerukunan nasional”) tapi ada pula yang membuat akronim untuk menciptakan efek propaganda dalam permusuhan politik (misalnya ”Manikebu” untuk ”Manifes Kebudayaan”, ”Nekolim” untuk ”neo-kolonialisme”. ”Cinkom” untuk ”Cina Komunis”, ”ASU” untuk ”Ali Surachman”). Bahasa jurnalistik, dari sikap objektif, seharusnya menghindarkan akronim jenis terakhir itu. Juga akronim bahasa pojok sebaiknya dihindarkan dari bahasa pemberitaan, misalnya ”Djagung” untuk ”Djaksa Agung”, ”Gepeng” untuk ”Gerakan Penghematan”, ”sas-sus” untuk ”desas-desus”.
Saya tak bermaksud memberikan batas yang tegas akronim mana saja yang bisa dipakai dalam bahasa pemberitaan atau tulisan dan mana yang tidak. Saya hanya ingin mengingatkan: akronim akhirnya bisa mengaburkan pengertian kata-kata yang diakronimkan, hingga baik yang mempergunakan ataupun yang membaca dan yang mendengarnya bisa terlupa akan isi semula suatu akronim. Misalnya akronim ”Gepeng” jika terus-menerus dipakai bisa menyebabkan kita lupa makna ”gerakan” dan ”penghematan” yang terkandung dalam maksud semula, begitu pula akronim ”ASU”. Kita makin lama makin alpa buat apa merenungkan kembali makna semula sebelum kata-kata itu diakronimkan. Sikap analitis dan kritis kita bisa hilang terhadap kata berbentuk akronim itu, dan itulah sebabnya akronim sering dihubungkan dengan bahasa pemerintahan totaliter dan sangat penting dalam bahasa Indonesia.
Tapi seperti halnya dalam asas penghematan, asas kejelasan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat. Satu-satunya untuk itu ialah dihindarkannya kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya; terlebih-lebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat.
Pada dasarnya setiap kalimat yang amat panjang, lebih dari 15-20 kata, bisa mengaburkan hal yang lebih pokok, apalagi dalam bahasa jurnalistik. Itulah sebabnya penulisan lead (awal) berita sebaiknya dibatasi hingga 13 kata. Bila lebih panjang dari itu, pembaca bisa kehilangan jejak persoalan. Apalagi bila dalam satu kalimat terlalu banyak data yang dijejalkan.
Contoh:
Harian Kami, 4 Desember 1971, halaman 1:
”Sehubungan dengan berita ‘Harian Kami’ tanggal 25 November 1971 hari Kamis berjudul: ‘Tanah Kompleks IAIN Ciputat dijadikan Objek Manipulasi’ (berdasarkan keterangan pers dari Hamdi Ajusa, Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Djakarta) maka pada tanggal 28 November jbl. di Kampus IAIN tersebut telah diadakan pertemuan antara pihak Staf JPMII (Jajasan Pembangunan Madrasah Islam & Ihsan – Perwakilan Ciputat) dengan Hamdi Ajusa mewakili DM IAIN dengan maksud untuk mengadakan ‘clearing’ terhadap berita itu.”
Perhatikan: Kalimat itu terdiri dari 60 kata lebih. Sebagai pembaca, saya memerlukan dua kali membacanya untuk memahami yang ingin dinyatakan sang wartawan. Pada pembacaan pertama, saya kehilangan jejak perkara yang disajikan di hadapan saya. Ini artinya suatu komunikasi cepat tak tercapai. Lebih ruwet lagi soalnya jika bukan saja pembaca yang kehilangan jejak dengan dipergunakannya kalimat-kalimat panjang, tapi juga si penulis sendiri.
Pedoman, 4 Desember 1971, halaman IV:
”Selama tour tersebut sambutan masyarakat setempat di mana mereka mengadakan pertunjukan mendapat sambutan hangat.”
Perhatikan: Penulis kehilangan subjek semula kalimatnya sendiri, yakni sambutan masyarakat setempat. Akibatnya kalimat itu berarti, ”yang mendapat sambutan hangat ialah sambutan masyarakat setempat.”
Sinar Harapan, 22 November 1971, halaman VII:
”Di kampung-kampung kelihatan lebaran lebih bersemarak, ketupat beserta sayur dan sedikit daging semur, opor ayam ikut berlebaran. Dari rumah yang satu ke rumah yang lain, ketupat-ketupat tersebut saling mengunjungi dan di langgar-langgar, surau-surau ramai pula ketupat-ketupat, daging semur, opor ayam disantap bersama oleh mereka.”
Perhatikan: Siapa yang dimaksud dengan kata ganti mereka dalam kalimat itu? Si penulis nampaknya lupa bahwa ia sebelumnya tak pernah menyebut ”orang-orang kampung”. Mengingat dekat sebelum itu ada kalimat ketupat-ketupat tersebut saling mengunjungi dan kalimat surau-surau ramai pula ketupat-ketupat, kalimat panjang itu bisa berarti aneh dan lucu: ”daging berarti aneh dan lucu: ”daging a oleh ketupat-ketupat
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : jakartapress Group
Teknik Memburu dan Menulis Berita
12 02 2007Berita dalam surat kabar menduduki posisi penting, menyita hampir 60 % dari keseluruhan isinya. Disamping masih ada beerita dalam bentuk Artikel. Features, Tajuk, Kolom, Berita Foto, Karikatur dan Gambar Strip serta Iklan. Ini mengingat berita merupakan kebutuhan pokok pembaca.
Berita merupakan suatu tulisan yang memuat fakta dari salah satu kejadian yang menarik minat pembaca untuk mengetahuinya. Jadi tidak mustail kalau berita menjadi primadona yang banyak menyita halaman surat kabar.
Ada beberapa faktor yang dapat mendukung berita menjadi menarik dan mengundang minat baca masyarakat, diantaranya :
1. obyeknya menarik, karena ada sesuatu yang aneh, hebat atau menyangkut nama tokoh dan tempat yang terkenal.
2. Punya dampak yang dengan dampak berita itu orang merasakan terlibat didalamnya, baik perasaan maupun kepentingannya.
3. Dihidangkan pada waktu yang cepat dan tepat. (hangat) dan (akurat).
4. Dilaporkan secara lengkap, teliti, benar, serta ditulis dengan susunan bahasa yang indah dan enak dibaca dan mudah dicerna.
DARI MANA SUMBER BERITA
Ada beberapa sumber yang dapat dimanfaatkan untuk menggali dan memburu berita : diantaranya :
1. Inspirasi
Bisa bermula dari diri wartawan atau orang lain yang dekat dengannya
2. Informasi
- Mendengarkan (listening)
- Menggali sejarah hidup seseorang (life history methode)
- Menjadi “pengamat-peserta” (partisipant-observer)
- Mengamati (watching)
- Melakukan introspeksi
- pengalaman diri (internal experience)
- dengan metode participant dan empathy (the ability to feel what others feel)
3. penugasan / tugas khusus dari redaksi
4. peristiwa tak terduga (bencana alam, kecelakaan, kebakaran dan peristiwa lain yang punya nilai berita tinggi)
BAGAIMANA MEMPEROLEH BERITA
Wartawan bukan manusia super. Namun karenaprofesinya, ia terpaksa dituntut untuk menguasai berbagai ragam pemikiran dan persoalan yang terjadi ditengah masyarakat. Untuk itu, seorang wartawan senantiasa dituntut untuk mengembangkan kemampuan diri bila tidak ingin “ketinggalan kereta”
Ada beberapa persyaratan yang selalu diperhatikan seorang wartawan untuk mendapatkan berita yang selalu hangat setiap saat :
1. punya pengalam luas
2. tahu sedikit dari yang banyak, tapi tahu banyak dari yang sedikit
3. punya banyak sumber berita dan relasi
4. punya sense of news dan feeling
untuk memperoleh materi berita, seorang wartawan bisa melakukan lewat berbagai cara :
a. undangan lisan dan tertulis
b. memanfaatkan sumber resmi (humas, pengadilan, kepolisian, kejaksaan dll.)
c. pengembangan atau pendalaman suatu berita (bisa dari media sendiri atau dari media lain)
d. tips dari redaksi
e. kalender kerja (kaleidiskop)
f. monitoring TV / Radio
g. mengutip agen berita (LKBN Antara, Reuter, UPI, AFN, CNN dll.)
h. penulis penyumbang/surat pembaca/surat kaleng/iklan dll.
i. Press release
TEHNIK MENULIS BERITA
Untuk menulis berita (berita langsung/straight news) wartawan dituntut untuk secepatnya menguasai bahan/materi yang akan ditulis (diberitakan). Penulis berita lngsung harus mengikuti kaidah yang berlaku. Diantaranya memenuhi unsur 5 W + 1 H atau 3 M + 3 P atau ditulis dengan piramida terbalik.
Sebelum menulis berita, bahan yang terkumpul baik dengan wawancara, pengamata lapangan dan dari berbagai sumber lainnya, perlu dirumuskan terlebih dahulu. Terutama bagi penulis pertama/pemula.perumusan masalah ini penting untuk menentukan materi mana yang banyak kita jadikan teras berita atau lead. Baru kita menulis berita.
Berita langsung harus ditulis dengan mengikuti kaidah piramida terbalik. Artinya teras / berita harus mencerminkan keseluruhan isi berita. Sehingga kepala berita harus memuat fakta yang teramat penting. Baru pada alenia berikutnya boleh ditulis hal-hal atau informasi yang penting. Pada alenia berikutnya boleh ditulis hal-hal yang penting, kemudian agak penting, serta pelengkap penjelasan pihak-pihak tertentu pendukung berita.
Mengapa teras/kepala berita harus memuat perihal yang terpenting ?
1. sebagai iklan. Tujuannya untuk merangsang pembaca agar memperhatikan tulisan wartawan yang termuat pada sebuah surat kabar. Teras berita yang bagus dapat memukau pembaca yang pada gilirannya menyeret pembaca pada keseluruhan isi surat kabar tersebut.
2. Membantu pembaca sibuk. Dengan hanya lead saja, pembaca yang sibuk sudah memperoleh gambarantentang keseluruhan isi berita yang dibacanya. Sehingga mereka tidak perlu bersusah payah melanjutkan membaca surat kabar.
3. Membantu redaksi. Baik dalam tugas editing maupun pemilihan judul saja petugas arsip sudah menentukan topik berita.
4. Memudahkan penulis sendiri untuk melanjutkan tulisannya kebagian tubuh berita hingga akhir/penutup. Lead yang baik juga mendorong penulis untuk lebih kreatif dan antusias menyelesaikan tulisannya yang telah dimuat.
CARA MEMBUAT BERITA/LEAD
Ada beberapa teras yang sering kita temukan pada gambaran surat kabar terkemuka. Diantaranya teras berita pernyataan (pernyataan dari nara sumber). Teras berita peristiwa (berita peristiwa, kecelakaan, gempa bumi dan lain-lain), dan teras berita kisah (untuk menulis features). Teras berita/lead yang berita yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.:
- puncak. Lead harus mengandung inti terpenting dari suatu peristiwa/pernyataan yang terjadi atau yang diucapkan dari serangkaian peristiwa/kejadian
- sebab-akibat. Lead dapat berisi analisis sebab akibat dari suatu peristiwa atau pernyataan yang diuraikan.
- Lengkap. Padat dan berisi. Lead harus mengandung unsur kelengkapan tetaplah diupayakan ditulis dengan kalimat, ringkas, padat. Hindari kata-kata yang mubazir atau terlalu bertele-tele.
- Gunakan selalu kata/kalimat aktif bukan pasif. Lead yang baik harus menunjukkan kegiatan yang dinamis dan jangan tulis lead dengan kata-kata klise.
- Jangan memulai dengan angka dan veri pembaca kepastian. Lead harus dimulai dengan pernyataan dalam bentuk huruf, jangan angka. Pernyataan yang meragukan sebaiknya dihindari pada tubuh berita.
- Utamakan unsur what, when, dan where. Lead lebih baik dimulai dari pernyataan apa yang terjadi, kapan dan dimana peristiwa itu terjadi
- Jangan gunakan lebih dari 30-45 kata. Lead yang baik ditulis kurang dari jumlah itu dalam 3 kalimat atau kurang.
- Dapat dimulai dengan kutipan pernyataan seseorang (quotation lead). Lead yang demikian hanya untuk orang-orang yang penting/berskala nasional/regional/penguasa wilayah.
- Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan sekalipun berita yang kita gunakan menyangkut kriminal atau sadistis
PENULISAN TUBUH BERITA
1. struktur piramida terbalik mengisyaratkan informasi paling penting (hard news) dan paling menarik (soft news) ditempatkan pada teras berita. Informasi ini kemudian dikembangkan pada alenia berikutnya untuk menjelaskan dan melengkapi teras/lead sepanjang masih relevan.
2. Seiap alenie merupakan pengembangan alenie berikutnya, sehingga informasi yang tidak penting dalam kerangka berita tersebut ditempatkan pada bagian akhir. Namun bukan berarti alenia tersebut tidak berarti bagi berita itu secara keseluruhan itu tetap diperlukan untuk mempertajam asosiatif.
TEHNIK WAWANCARA
Dalam melakukan wawancara perlu dipahami tehnik wawancara. Sebelum berwawancara, wartawan hendaknya mempersiapkan diri sebaik mungkin. Termasuk bahan pertanyaan yang akan diajukan. Wartawan harus berusaha tampil memikat dengan memegang kepribadian yang utuh, luwes, ramah, sopan, lincah, cerdas dan cekatan. Mengingat sebuah wawancara bukan pertemuan pertama dan yang terakhir kalinya. Sehingga harus diciptakan jalinan kesinambungan dengan sumber berita. Atas dasar sikap saling menghormati dan membutuhkan wartawan hendaknya :
- cepat dan pandai merumuskan pembicaraan
- menguasai mateeri
- merencanakan wawancara dengan berpedoman pada kaidah 5 W + 1 H serta jelas alur dan arah pembicaraan.
LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN WAWANCARA
· kenali betul orang yang akan kita wawancarai sampai detail (nama lengkap, jabatan, tempat itnggal, kegemaran dll)
· buat pokok-pokok pertanyaan dan cadangannya. (selebihnya bisa dikembangkan saat wawancara berlangsung)
· pertimbangan kesempatan yang tepat (janji, penelponan, sanggong, insidentil dll)
· pastikan kesediaannya dan beri gambaran seperlunya.
Setelah seluruhnya siap lakukan wawancara dengan memperhatikan hal-hal berikut :
1. memperkenalkan diri (dari media apa) dan menjelaskan maksud wawancara, apakah untuk berita lempang (straight news/hard news) atau untuk karangan-karangan khas (features)
2. mengetahui kegemaran atau hobi orang yang akan diwawancarai, untuk membukan / memulai pembicaraan menuju wawancara.
3. Jalin saling pengertian, saling percaya ciptakan suasana mutual trust
4. Ciptakan suasana familiar dan tidak terlalu formal, kecuali situasi menghendaki begitu (misal protokoler). Jangan buat aturan sendiri.
5. Lihai membujuk dan merayu (pentingkan sumber berita)
6. Jangan mati langkah jika harus “no comment” atau “of the record”
7. Cepat menyesesuaikan diri dengan situasi baru yang berkembang jika yang terjadi lain dari rencana semula. Cepat rumuskan pertanyaan yang dipersiapkan sebelumnya.
8. Jangan jadi jaksa atau polisi, tapi jangan pula menjadi pendengar pasif
9. Jangan malu atau takut minta kejelasan jika memang tidak jelas (jangan sok tahu). Terutama menyangkut data, opini dan nama termasuk angka-angka yang rumit. Kalau perlu mintalah dia mengerjakan untuk anda
10. Jelaskan jika dia “ of the record”, mana yang tidak perlu ditulis dan mana yang bisa , tanyakan . hargai jika dia minta dilindungi identitasnya.
11. Nyatakan terima kasih anda dan tanyakan pada sumber berita. Apakah ia masih berkenan untuk wawancara berikutnya, dilain kesempatan.
12. Bacakan kembali hasil wawancara anda, meski juga direkam dalam recorder. Mohon kepadanya untuk memaraf, terutama bila menyangkut statement yang peka (baca:SARA)
13. Kesinambungan poko pikiran antara alenia tetap dijaga. Setiap alenia mengandung unsur transisi yang mengacu pada poko pikiran yang akan tertuanag pada alenia berikutnya.
14. Kalimat yang digunakan untuk membangun alenia lugas, ringkas, dan jelas dengan tetap bercitrarasa bahasa yang baik.
15. Tubuh berita diawali dengan penulisan date line dengan komposisi nama kota (peristiwa itu berlangsung) dan nam surwat kabar /harian/mingguan yang menerbitkan.
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : jakartapress Group
Menguji Akurasi Berita
12 02 2007Akurasi adalah kunci kredibilitas. Ketidak-akuratan biasanya disebabkan karena kecerobohan, kemalasan, penipuan atau ketidakpedulian reporter dalam menuliskan hasil reportasenya. Pengecekan ulang sebelum kita menulis, membaca kembali dengan hati-hati dan mengeceknya kembali setelah kita menulis adalah benteng terbaik terhadap ketidak-akuratan. Penulis dan pembaca mempunyai keperluan yang berbeda, namun bisa bekerjasama. Penulis tak ada artinya tanpa pembaca, dan pembaca masuk dalam sebuah cerita dengan harapan besar bisa memahami semuanya. Tanggung jawab yang terbesar terletak pada penulis. Jika penulis mengkhianati harapan pembaca dengan membuat sejumlah kesalahan atau kekurang-tepatan, dia merusak kerjasama yang telah terbentuk. MENGUJI AKURASI Berikut ini adalah elemen-elemen utama dalam mencermati sebuah fakta atau detil. Jangan menebak Penulis harus memegang betul apa saja yang diketahui dan apa saja yang dimengerti. Jika kita tidak benar-benar memahami, cek kembali hal itu atau tinggalkan sama sekali. Jangan pernah mengira-kira. Angka Ceklah dua kali semua angka dan jumlah. Sebuah angka seringkali tak memiliki makna, kecuali diletakkan pada konteks yang mudah dipahami pembaca. Angka tentang omset penjualan misalnya, tak punya makna jika tak disertai omset penjualan tahun lalu, berapa prosentase kenaikan atau penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Angka juga seringkali lebih bermakna jika disertai penjelasan yang menyentuh pembaca: Seberapa jauh melampaui standar pencemaran udara? Seberapa mahal dibanding APBN Indonesia tahun ini atau dibanding harga mobil Kijang yang rata-rata dimiliki pembaca? Seberapa luas dibanding lapangan sepakbola? Nama, Tanggal dan Tempat Dengan kata lain, angka yang ada sebaiknya disertai ekuivalennya yang mudah dicerap pembaca. Ukuran-ukuran juga sebaiknya dikonversikan ke ukuran yang lazim dipakai pembaca: km bukan mil, rupiah bukan dolar, meter bukan kaki, kg bukan pound. Jika Anda tak menghitung sendiri, sebutkan dari mana angka itu dikutip — dari sumber atau dari buku statistik, misalnya. Nama, Tanggal dan Tempat Tak ada orang yang suka namanya ditulis secara salah. Usahakan untuk meminta sumber berita mengeja sendiri nama sekaligus gelar dan nama panggilannya. Lihat di buku rujukan yang terpercaya, misalnya buku apa siapa atau ensiklopedi. Jangan percaya hanya pada leaflet atau selebaran atau omongan teman Anda. Catatan penting tentang nama sumber: sebagian besar nama orang Indonesia terdiri atas dua kata (kecuali Soeharto misalnya). Cantumkan nama lengkap ketika pertama kali Anda menyebutnya dalam laporan. Pada saat kita menulis tentang tanggal, lihatlah kalender lebih dahulu. Ketika menulis tentang tempat, lihatlah kembali peta. Jika mungkin, milikilah sebuah buku pintar, infopedi, tabel konversi, kalender dan peta kecil. Letakkan pada tempat yang mudah dijangkau, sehingga tak enggan kita untuk mengecek sesuatu fakta. Kutipan Apakah sesuatu kutipan benar-benar seperti yang dikatakan oleh sumber? Apakah catatan kita benar dan kita berani mempertahankan sampai di meja pengadilan? Jika tidak, sebaiknya dijelaskan dengan kata-kata kita sendiri saja. Terburu-buru Kata-kata yang sering digunakan sebagai permintaan maaf atas beberapa kesalahan adalah: ”Saya tidak punya waktu untuk mengeceknya kembali”. Alasan yang tidak bisa diterima. Cerita Bohong Sangat jarang penerbitan yang tidak memasukkan hal ini ke dalam beritanya. Keragu-raguan adalah perlindungan yang terbaik. Jika sebuah cerita atau kenyataan seolah-olah sangat aneh atau menakjubkan untuk dipercaya, jangan percaya hal itu sebelum ada pembuktiannya. Kesalahan Teknis Perhatian yang istimewa sangat dibutuhkan pada tulisan khusus seperti ilmu pengetahuan, hukum, kedokteran, teknik, keuangan dan sejenisnya. Sediakan waktu untuk menelitinya, dan kemudian ceklah kembali informasi yang kita peroleh melalui pakar yang dapat dipercaya pada bidang tersebut. Rekayasa Manipulasi, perubahan konteks, distorsi, pemaparan yang salah, sindiran, kebencian, gosip, kabar angin dan melebih-lebihkan. Semua itu sangat tinggi ongkosnya, sementara hasilnya sangat rendah.
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : jakartapress Group
Menjadi Wartawan
9 02 2007Tak ada yang menodongkan pistol ke kepala dan memaksa Anda menjadijurnalis. Anda datang atas kemauan sendiri, karena Anda mencintaidunia tulis-menulis, mampu mengendus berita dan punya ikatan padaorang kebanyakan. Asah lah kerajinan menulis Anda, ketajaman akanberita dan kepekaan terhadap orang-orang di jalanan. Asah lah selalu dan terus-menerus. Menggerutu boleh, asal jangan terlampau banyak.
Pikirkan selalu pembaca, pirsawan dan pendengar Anda. Katakan pada mereka sesuatu yang baru, setiap hari. Itulah yang membuat mereka rela mengeluarkan Rp 1.000 atau Rp 2.000 dari kocek untuk selembar koran. Cari tahu siapa mereka dan menulislah untuk bisa mereka baca. Jika Anda bisa bilang “go to hell” ke mereka, Anda sendiri lah yang pertama-tama akan masuk ke neraka. Lalu, koran atau majalah, televisi
atau radio Anda.
Membacalah setiap hari — tiga atau empat buku setiap kali dan semua jenis majalah. Bacalah sebanyak mungkin untuk menjadi penulis terbaik.Bacalah Shakespeare dan karya-karya sastra lain seperti Anda membaca Al-Quran atau Bible sepanjang hayat. Bacalah karya sastra klasik — untuk mengetahui bagaimana pikiran-pikiran besar masa silam mengekspresikan dirinya sendiri.
Suapi otak setiap hari, seperti Anda menyuapi perut. Petinju hebat tak bisa mengandalkan daging yang dimakannya 10 tahun lewat. Jurnalis tak bisa menulis baik dengan pikiran 10 tahun silam. Jagalah agar otak tetap terbuka terhadap gagasan dan pikiran baru.
Jangan arogan dan bersikap menghakimi orang lain. Mereka yang tak setuju dengan Anda tidak selalu berarti tolol atau gila.
Jauhkan diri dari memuja stereotipe. Sebab, hidup di desa belum tentu damai; birokrat belum tentu korup; haji dan pendeta belum tentu alim; dan anak yang membunuh ibunya belum tentu durhaka. Gali lah fakta hingga ke dasar-dasarnya.
Jangan terpukau pada omongan pejabat, para pakar, tentara, dan polisi.Kutip mereka sedikit mungkin. Gali cerita dari lapangan. Berbicaralah dengan orang-orang di jalanan, di tempat peristiwa.
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : jakartapress Group
Media portal News pertama yang menjangkau berbagai daerah
9 02 2007www.acehpress.com www.medanpress.com www.padangpress.com www.palembangpress.com www.riaupress.com www.batampress.com www.pangkalpinangpress.com www.lampungpress.com www.jakartapress.com www.bandungpress.com www.semarangpress.com www.yogyakartapress.com www.surabayapress.com www.pontianakpress.com www.samarindapress.com www.banjarmasinpress.com www.makasarpress.com www.palupress.com www.gorontalopress.com www.manadopress.com www.kendaripress.com www.balipress.com www.lombokpress.com www.sumbawapress.com www.malukupress.com www.papuapress.com
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : jakartapress Group