Sepuluh Jurus Menulis Berita Ekonomi & Bisnis

12 02 2007

Oleh Purwanto Setiadi

Pengantar
Berita ekonomi dan bisnis, bagi negara seperti Indonesia, terus
menempatkan diri pada posisi yang semakin penting. Dan pers bertambah
sadar bahwa berita ekonomi dan bisnis bukanlah subjek yang sebaiknya
ditempatkan di halaman tersembunyi. Berita ekonomi dan bisnis
mempengaruhi siapa pun, dari bankir hingga mereka yang membeli roti
atau beras di pasar. Simak apa kata sebuah koran terkemuka di Nigeria
tentang berita ekonomi dan bisnis:

Sejak Program penyesuaian struktur ditetapkan sebagai langkah besar
pertama dalam usaha pemerintah untuk mengubah keadaan ekonomi,
istilah-istilah seperti Pasar Valuta Asing Lapis Kedua, pembayaran
utang, penjadwalan kembali utang, pasar otonom, dll. menjadi rutin
terbaca oleh warga biasa
Nigeria. Namun ada dua masalah dasar
menyangkut berita-berita ekonomi dan bisnis. Yang kerap muncul adalah:
Satu, rumit; dan Dua, menjemukan. Penulis pada koran terkemuka
Nigeria tersebut benar tentang makin sadarnya warga
Nigeria pada
isu-isu ekonomi. Namun bisa dipastikan kebanyakan warga
Nigeria sudah
jemu pada program dan lembaga yang disebutkannya – setidaknya
dibandingkan dengan skandal-skandal politik yang tengah terjadi. Yang
terutama menjadi penyebab adalah rumitnya berbagai program dan lembaga
itu.

Istilah seperti Pasar Valuta Asing Lapis Kedua mungkin sudah menjadi
buah mulut warga
Nigeria kebanyakan, tapi mudah disangsikan banyak
dari mereka – bahkan profesional terdidik sekalipun – yang memahami
artinya. Seperti halnya orang di mana pun, kebanyakan warga
Nigeria
tak belajar menjadi ekonom.

Jadi, apa tujuan seorang wartawan ekonomi dan bisnis?

Jelas, yang terutama ingin dicapainya adalah melaporkan berita
seakurat mungkin – sebuah misi luar biasa penting pada subjek yang
memungkinkan seseorang kehilangan keberuntungan hanya karena salah
meletakan titik atau koma pada deretan angka. Namun jika berita
ekonomi dan bisnis pada hakikatnya kerap rumit dan membosankan, ada
tujuan lain yang tak kalah utamanya – menjadikan berita ekonomi dan
bisnis:

Satu, bisa dipahami; dan Dua, menarik. Kedua tujuan itu sama
pentingnya baik di Lagos, di Lahore, di London, maupun
Los Angeles.

Bagaimana kita bisa membuat berita ekonomi dan bisnis mudah dipahami?
Ada seorang redaktur yang, suatu ketika, mengatakan wartawan ekonomi
dan bisnis yang baik harus mengikuti tiga aturan. “Yang pertama,
“katanya, “adalah menjelaskan. Yang kedua….. menjelaskan. Yang
ketiga…..” – kita pasti bisa menebaknya.

Tapi sebelum wartawan bisa menjelaskan kepada orang lain, mereka
sendiri harus memahami apa yang harus dijelaskannya. Dan untuk
memahami, kerap mereka harus mengakui bahwa mereka memang tak tahu.
Ini tak mudah.

Wartawan tergolong yang gengsian. Kalau kita benar wartawan, kita
pasti tahu ini. Tak seorang pun mau mengakui kebodohan mereka,
terutama bila seorang pejabat pemerintah atau seorang penting lainnya
memanfaatkan peluang itu untuk menyepelekan. Tapi wartawan,
bagaimanapun, adalah komunikator, bukan ahli yang tahu segala hal; dan
wartawan berkewajiban menyampaikan (berita) kepada pembacanya. Jika
wartawan tak paham, pembaca pun tak akan bisa mencerna apa yang
disampaikan. Jangan biarkan gengsi membuat lidah kita erat mengatakan,
“Maaf, saya tak paham. Bisakah Anda menjelaskannya pada saya?”

Benar, seorang wartawan perlu memperhitungkan pembacanya ketika
menulis berita, dan tak ingin menyepelekan. Namun lebih banyak
penjelasan biasanya lebih baik ketimbang hanya sedikit. Pembaca yang
cangih sekalipun perlu disegarkan ingatannya tentang konsep-konsep
ekonomi. The Wall Street Journal bisa menjadi salah satu koran
terlaris di AS, tanpa kehilangan prestisenya, sedikit pun, karena
menyajikan berita ekonomi dan bisnis dengan penjelasan-penjelasan bagi
pembaca yang bukan ekonom dan ahli bisnis. Tujuan Journal ekonomi dan
bisnis – bukan mengecualikan mereka, seolah-olah bisnis adalah semacam
kelab terbatas.

Setelah membuat berita ekonomi dan bisnis bisa dipahami, bagaimana
kita menjadikannya menarik? Jawaban pendeknya adalah: Pusatkan sedikit
saja pada statistik dan lebih banyak pada orang. Yang menjadi alasan
orang di mana pun untuk lebih memilih berita tentang skandal politik
mutahir ketimbang berita tentang pasar “Pasar Valuta Asing Lapis
Kedua” adalah karena berita tentang skandal jelas melibatkan banyak orang.

Ini bukan berarti kita sebaiknya hanya mengejar-ngejar skandal bisnis.
Ekonomi dan bisnis pada dasarnya menyangkut orang. Perubahan ekonomi
mempengaruhi sehari-hari orang. Bisnis penuh dengan drama kemanusiaan
yang mencakup sukses, kegagalan, dan pergulatan antarpesaing untuk
saling menyingkirkan. Tip-tip yang akan disarankan di sini berkaitan
dengan cara mencapai dua tujuan ini: menjadikan berita dan bisnis
mudah dipahami dan manarik. Sejumlah saran yang ada agak tak lazim;
tapi akan baik jika dijadikan sebagai bahan diskusi.

Untuk memberikan ilustrasi disertakan kutipan dari sejumlah koran di
Afrika Barat, India, dan di tempat-tempat lain di negara yang sedang
berkembang. Beberapa kutipan sengaja diringkas karena keterbatasan
ruang atau untuk menghindari dikenalinya koran atau perusahaan yang
bersangkutan. Prinsip dasar jurnalistik bersifat universal. Karenanya,
tip-tip yang disarankan kebanyakan bisa diterapkan di mana pun profesi
wartawan dijalankan. Kepentingan pembaca, bagaimana mereka bisa
memahami dan tertarik pada apa yang kita sajikan, betapapun tujuan
utama kita,
kan?

01. Jangan Berkawan dengan Jargon

Simak kalimat dari laporan sebuah radio ini: Pejabat menyeru
produsen barang-barang industri, konsumsi, dan produk-produk lain di
dalam negeri agar terlibat dalam kampanye pengunaan bahan-bahan dasar
dari dalam negeri.

Gaya sangat akrab. Tapi apa maksudnya? Dalam bahasa sederhana, pejabat
itu semata mendesak agar industriwan dalam negeri mengunakan
bahan-bahan mentah dari dalam negeri. Jadi, mengapa si wartawan tak
mengatakaan begitu?

Sayang, banyak wartawan terlalu kerap tergelincir ikut memamerkan
jargon-jargon yang memusingkan dari ekonom, bankir, dan pejabat
pemerintah ketimbang mengunakan bahasa yang digunakan banyak orang
dalam percakapan sehari-hari. Bagi ekonom, jargon-jargon itu bukan
masalah; mereka saling memahaminya – atau setidaknya berpura-pura
begitu. Sebaiknya, bagi pembaca kebanyakan, jargon ekonomi
membingungkan dan membosankan.

Istilah-istilah sulit serupa itu bisa tercetak karena begitu mudahnya
mengulang kata-kata birokrat, ekonom, bankir, atau siaran pers
ketimbang menerjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari. Wartawan pun
kadang-kaang senang pamer kepada pembaca, dan mereka percaya jargon
akan dilihat sebagai tanda kemajuan pendidikan dan kecerdasan mereka.
Namun sering wartawan sendiri tak paham apa yang dimaksud dengan
jargon tertentu dan karenanya merasa aman untuk menuliskannya tanpa
perubahan sedikit pun. Meski sulit mernerjemahkan jargon ke dalam
bahasa biasa, wartawan harus berusaha melakukannya. Tujuannya:
pengguna bahasa sederhana untuk soal-soal yang ruwet. Idealnya,
gunakan kalimat pendek, sedikit kata.

Bila berlebihan, penyederhanaan memang berbahaya. Namun bisanya
penyerdehanaan bisa dilakukan dengan selalu berhenti dan bertanya apa
yang sesungguhnya dimaksud sesuatu jargon. Jika mungkin, teknik
terbaik adalah menanyakannya kepada penceramah yang mengatakannya agar
meringkaskaan apa yang dimaksudnya ke dalam bahasa sehari-hari.

Birokrat sering mengunakan jargon karena mengatakan sesuatu secara
sederhana akan terlalu blak-blakan. Simak laporan dari sebuah surat
kabar Cina ini:

Cina harus berusaha mati-matian menyesuaikan struktur industrinya
untuk memastikan penggunaan dan pengerahan sumber-sumber ekonomi
secara rasional, kata seorang ekonom di
Beijing akhir pekan lalu.
Kepada peserta sebuah simposium internasional ia mengemukakan
kontradiksi struktural masih berlangsung di dalam industri Cina.

Paragraf tersebut penuh eufemisme. Bila seorang ekonom berbicara
tentang “pengunaan rasional” dari “sumber-sumber ekonomi”, biasanya
mereka bermaksud mengatakan perlunya pengurangan jumlah pekerja -
atau, lebih terus terang, memberhentikan pekerja. Jika ini memang yang
dimaksud, katakan saja demikian. Dan apa yang dimaksud pembicara itu
ketika mengatakan “kontradiksi struktural” masih berlangsung di dalam
industri Cina? Jika mungkin tanyakan.

Hindarkan pula pengunaan akronim yang membingungkan bila menyebut
nama organisasi atau sesuatu program. Bahkan pada penyebutan kedua,
kerap lebih jelas dengan menuliskan nama lengkapnya atau sebagian
saja–misalnya Barito ketika menyebut untuk kedua kalinya nama Barito
Pasific Timber, ketimbang menyingkatnya menjadi BPT. Wartawan sering
ngotot beralasan sesuatu jargon sudah lazim di sesuatu
tempat–misalnya “integrasi ke belakang” di Nigeria – sehingga “
setiap orang tahu apa artinya”. Namun bila diminta menjelaskannya,
sering terbukti bahwa setiap orang memang tahu kecuali sang wartawan.
Itulah tanda bahwa wartawan telah menjadi korban bahaya jargon
ekonomi, terlalu sering mendengarkannya sehingga seperti sudah lazim.
Reporter harus terbiasa untuk terus menerus bertanya: Bisakah ini
dikatakan secara lebih jelas?

02. Definisikan Istilah Ekonomi

Bila tak bisa menghindarkan jargon ekonomi, definisikan. Beberapa
istilah ekonomi memang punya arti khusus yang jika ditanggalkan bakal
membingungkan. Namun ingat, bagi banyak orang, istilah-istilah itu
masih merupakan kode kata-kata yang misterius; Wartawan harus
memecahkannya. Ini ringkasan dari sebuah artikel di halaman depan
Daily Times, sebuah koran
Nigeria:

Suku bunga antarbank, yang relatif stabil dalam tiga bulan terakhir,
melonjak tiga persen pekan lalu….

Di bagian tengah berita yang sama, sang reporter menulis:

Suku bunga antarbank adalah suku bunga pinjaman yang diberlakukan oleh
bank kepada bank lain dan biasanya menjadi faktor dasar yang
dipertimbangkan oleh bank dalam menetapkan suku bunga pinjaman
nasabahnya…..

Bravo! Tanpa definisi yang sangat membantu itu, tulisan tersebut
jelas akan menjadi tak berarti bagi banyak pembaca yang buta suku
bunga antarbank. Definisi seperti itu sangat jarang ada dalam
berita-berita bisnis.

Beberapa wartawan mengatakan bahwa definisi boleh-boleh saja untuk
berita halaman depan sebuah koran umum, tapi pembaca halaman bisnis
atau publikasi bisnis sudah sangat kenal dengan istilah-istilah ekonomi.

Mungkin. Tapi The Street Journal, yang pembacanya adalah kelompok yang
cukup canggih, mendefinisikan bahkan istilah-istilah ekonomi yang
sudah sangat biasa. Misalnya ketika istilah Produk Nasional Bruto
(PNB) pertama kali muncul dalam sebuah berita, ini akan diikuti oleh
penjelasan bahwa PNB adalah “nilai total barang dan jasa yang
dihasilkan oleh sebuah negara”.

Sebelumnya telah dikatakan bahwa seorang wartawan harus berusaha
mengunakan sedikit saja kata. Mendefinisikan, istilah, jelas,
membutuhkan kata-kata ekstrak, Namun kejelasan lebih penting ketimbang
keringkasan. Dan sebuah definisi yang berkepanjangan tak selalu perlu
bila contoh ringkas bisa memperjelas makna sebuah istilah. Contohnya
sebuah berita mungkin menyebutkan sebuah perusahan memberikan
“fasilitas dan tunjagan, seperti cuti tahunan dan asuransi kesehatan”.

Tapi sering definisi panjang dibutuhkan. Sebuah koran
Nigeria memuat
artikel tentang pro kontra terhadap “konversi utang” – tanpa sekalipun
mendefinisikannya! Sebuah penjelasan sederhana mungkin menyatakan:
“Konversi utang adalah skema pembebasan Nigeria dari utangnya cara
menukar utang dengan saham perusahaan-perusahaan
Nigeria.”

Definisi objektif itu kelihatan mudah, tapi sesunguhnya sulit
dituliskan. Itulah sebabnya reporter atau media masa tempat mereka
bekerja harus membuat definisi yang bisa dengan mudah dikutip dan
disisipkan ke dalam sebuah berita bila suatu istilah dipakai. Daftar
serupa ini, tentu saja, tak mungkin diciptakan dalam semalam; ini akan
berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Beberapa istilah yang biasa dipakai pijakan: neraca pembayaran, suku
bunga utama, Dana Moneter Internasional, devaluasi, swastanisasi,
Perjanjian Umum tentang Perdagangan dan Tarif atau GATT, dll.

03. Gunakan Statistik secara Seletif

Berita bisnis biasanya mengandung terlalu banyak angka. Meski angka
yang penting bisa menjadikan berita lebih berwibawa dan akurat,
wartawan harus meninggalkan angka-angka yang tak penting benar. Ini
tampaknya saran yang ganjil bagi wartawan bisnis, yang bahan mentahnya
kerap semata berupa angka dan stasitik. Namun memang banyak pembaca
yang memandang angka terlalu kering dan sulit dicerna. Coba tanya
seseorang yang telah berusaha keras membolak-balik beberapa halaman
tabel stasistik. Akibatnya, sebuah berita dengan begitu banyak angka
menjadi–tebak sendiri–membosankan dan sulit dipahami. Simak kutipan
dari sebuah koran Cina ini:

Meski lebih dari 13 juta sepeda buatan Cina kini menumpuk di
gudang-gudang, para produsen menaruh harapan pada kemungkinan bakan
melonjaknya pasar dunia. Dari Januari hingga September tahun ini Cina
mengekspor 1,6 juta sepeda senilai 67 juta dolar AS: 72 persen lebih
tinggi dan dengan nilai 87, 8 persen lebih besar ketimbang periode
yang sama tahun lalu. Pada September sendiri, menurut sebuah laporan
statistik dari dinas Bea dan Cukai, Cina mengekspor 294 ribu sepeda
senilai 11 juta dolar. Tahun lalu Cina memproduksi lebih dari 40 Juta
sepeda, 2,53 juta di antaranya diekspor. Sepeda yang diekspor setiap
tahunnya merupakan lima persen dari total produksi Cina.

Keempat paragraf tersebut begitu padat – bahkan terlalu
padat-informasi. Seorang pembaca yang telah menelusur di halaman
koran itu mungkin akan membacanya, lalu menyerigai ketika kepalanya
mulai berusaha keras merayap data yang ada. Dibombadir oleh
angka-angka itu siapa pun akan cenderung membuka halaman lain. Disini
wartawan sebetulnya perlu memilih sedikit saja statistik yang akan
lebih tepat mendukung penegasannya bahwa produsen sepeda di Cina
berharap ekspor akan meningkat penjual. Jika perlu, tambahan informasi
yang bersifat statistik bisa dimasukan menjelang bagian akhir berita,
khusus untuk pembaca yang tertarik pada detail. Dengan mengangkat
begitu banyak angka di bagian atas berita, sang wartawan telah memaksa
banyak pembaca enggan menyimak isi berita selebihnya.

Mengapa wartawan begitu kerap membebani berita dengan banyak
statisitik? Hanya ada satu jawaban: mereka menunjukan kepada pembaca
(atau redaktur) bahwa mereka menempuh segala kesulitan untuk
mendapatkannya. Karena telah mencatat statistiknya, sang wartawan
ingin menumpahkan seluruhnya ke dalam berita. Namun karena membekukan
benak pembaca, statistik sebaiknya digunakan secara selektif. Pembaca
umum tak membutuhkan seluruh data–dan pembaca ahli–biasanya sudah
punya sendiri.

Sebuah artikel istimewa dalam sebuah majalah Nigeria melaporkan
bagaimana produksi pertanian Nigeria merosot begitu pemerintah
berusaha mengurangi impor makanan. Di tengah artikel, dilaporkan bahwa:

Angka produksi jagung sebesar 694 ribu ton pada 1983, 1,05 juta pada
19984, 1,01 juta pada 1985, dan 1,3 juta pada 1986. Pada 1987 angkanya
turun menjadi 1,2 juta ton, lebih kecil 10 persen dibandingkan
produksi pada tahun sebelumnya. Kecenderungannya sama untuk
padi-padian. Angka produksi tercatat 2,7 juta ton pada 1983, 3,3 juta
ton pada 1984, 4,1 juta pada 1986, dan 3,9 juta pada 1987…

Dan seterusnya, hingga tiga hasil pertanian lainnya -sorgum, yam, dan
singkong. Meski mendukung apa yang dikemukan wartawan, daftar
statistik lengkap ini memacetkan ‘nyawa’ berita. Karena berita bukan
karya akademik, banyak pembaca akan puas hanya dengan satu contoh:
“Misalnya, produksi jangung merosot 10 persen menjadi 1,2 juta ton
pada tahun 1987.”

Jika reporter dan redaktur mengira bahwa kepada pembaca perlu
disajikan seluruh data yang ada, pemanfaatan bagan dan tabel akan
lebih tepat -lebih mencuri perhatian dan mudah di pahami. Terkadang
wartawan seperti nyaris terobesisi oleh angka, misalnya ketikan mereka
melaporkan nomor polisi kendaraaan atau nomor cek suatu bank. Di
negara yang pemerintahnya kerap mempertanyakan akurasi pers, mungkin
ini perlu. Tapi biasanya informasi semacam ini tak menambah banyak
peran pada berita kecuali menunjukan – sedikit berlebihan – bahwa sang
wartawan benar-benar melakukan telah tugas.

Bila memang dipakai, angka terkadang bisa dibuat sesederhana mungkin
dengan cara membulatkannya atau memakai pendekatannya. Jelas, dalam
beberapa segi pelaporan kegiatan bisnis, ketepatan sangat diperlukan;
untuk harga saham dan komoditas, misalnya, fluktuasi sedikit saja
sangat berarti. Tapi pada banyak keadaan seorang reporter cukup
mengatakan “kira-kira separo” ketimbang “49 persen” atau “hampir lipat
tiga” ketimbang “naik 295 persen”.

Dalam berita tentang sepeda Cina, umpamanya, sang reporter cukup
mengatakan nilai ekspor naik “hampir 90 persen” ketimbang “87,8
persen”. Ekonom memang perlu tahu angka persisnya. Pembaca koran
seringkali tidak.

04. Bandingkanlah setiap Statistik

Bila kita memang mengutip statistik dalam sebuah berita, akan baik
bila kita menempatkannya dalam konteks dengan cara membandingkannya
dengan hal lain. Sebuah angka tak akan berarti apa-apa bila berdiri
sendiri; maknanya yang sebenarnya muncul dari nilai relatifnya.
Sebagai acuan, selalu ajukan pertanyaan ini pada diri sendiri,
terutama bila hendak membubuhkan angka pada berita yang tengah
ditulis: Dibandingkan dengan apa? Ini kebiasaan baik.

Banyak statistik bisa dibandingkan dengan statistik yang sama dari
periode lain-umpamanya tahun lalu. Angka-angka itu pun bisa
dibandingkan dengan statistik yang sama dari tempat lain-misalnya
negara tetangga atau perusahaan pesaing. Jika angka yang dimaksud
mewakili hanya sebagian dari suatu keseluruhan-misalnya laba satu
divisi sebuah perusahaan-nilai relatifnya bisa ditunjukkan dengan
menyodorkan prestaasenya dari angka keseluruhan. Ini lead berita
halaman depan sebuah kora Nigeria:

Pemerintah federal membelanjakan 905,8 juta naira, 94,2 juta naira
lagi dari 1 milyar naira, untuk menerapkan pelebaran skala gaji April
lalu.

Setiap Warga Nigeria tahu lebih dari 900 juta naira adalah jumlah yang
sangat banyak, lebih banyak ketimbang yang bisa dibayangkan siapapun.
(pada saat berita itu diterbitkan nilainya kira-kira setara dengan 130
juta dola AS.) Tapi berapa banyak itu, secara relatif?

Pelebaran skala gaji – o ya, istilah ini tak pernah dijelaskan dalam
tubuh berita – merupakan kenaikan gaji pegawai pemerintah untuk
seluruh tingakatan. Jadi, sang reperter harus bertanya: Bagaimana
905,8 juga naira itu dibandingkan dengan jumlah yang dibelanjakankan
pemerintah federal untuk gaji pegawai pemerintah pada tahun
sebelumnya? Bagaimana bila dibandingkan dengan jumlah seluruhnya yang
dibayarkan pemerintah lokal kepada pegawainya? Mungkin lebih penting,
berapa persen 905, 8 juta naira itu dari seluruh anggaran pemerintah
federal?

Berita tersebut tak menjelaskannya. Dengan menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu – atau yang lainnya – jumlah 905,8 juta
naira bisa memberikan makna yang lebih berarti.

Sebuah laporan dari kantor berita mengemukakan proyek penamanan gandum
di suatu wilayah sebuah negara Afrika Barat, bagian dari usaha
pemerintah untuk meningkatkan produksi gandum. Berita ini mengemukakan
banyak pertanyaan sekaligus jawaban.

Sebuah lahan seluas 225 ha dilaporkan tengah ditamami. Jika
dibandingkan, luaskah tanah itu? Bagaimana bila dibandingkjan dengan
lahan yang sudah ditanami di wilayah itu? Secara nasional? Bagaiamana
dibandingkan dengan luas lahan yang ditanami segala jenis tanaman?

Seorang pejabat mengatakan kepada sang reporter pemerintah akan
membayar petani jumlah tertentu utuk sekarung gandum. Bagaimana bila
dibandingkan dengan tahun lalu? Bagaimana pula dibandingkan dengan
jumlah yang akan dibayarkan pemerintah sekarung Jagung?

Jelas, besarnya ruang membatasi banyaknya perbandingan yang bisa
disajikan dalam sesuatu berita. Dan stastistik yang di pakai sebagai
bandingan pun tak selalu tersedia. Namun bila statistik itu bisa
diperoleh–kerap hanya dengan bertanya kepada sumber berita–informasi
tambahan akan memberikan makna tambahan pula.

Terkadang seorang wartawan bisa menghidupkan angka dengan menyajikan
dalam suasana keseharian, atau yang bersifat manusiawi. Berita tentang
proyek gandum tersebut di atas melaporkan proyek pertanian bakal
menanen 20 ribu ton gandum. Siapa pun tahu ini jumlah yang banyak.
Tapi berapa banyak potong roti yang bisa dibuat darinya? Bisa memenuhi
kebutuhan makan berapa banyak keluarga?

05. Ceritakanlah Statistik

Tapi bahkan membandingkan statisitik pun biasanya tak cukup. Seorang
wartawan perlu melakukan hal lain ketimbang sekedar melaporkan angka.
Ia harus menjelaskan nilai pentingnya dan mengatakan maknanya. Dan
ini kerap tak sangat jelas. Perhatikan lead yang dikutip dari sebuah
berita tentang impor mobil di Nigeria ini: Arus masuk beragam jenis
kendaraan bekas dan baru ke pelabuhan Lagos rata-rata per bulan
mencapai angka tertinggi, demkian temuan sebuah penyidikan khusus.

Dari rata-rata 148 kendaraan sebulan pada tahun 986 jumlahnya naik
menjadi 1.48 kendaraan sebulan pada tahun 1986 jumlanya naik menjadi
1.431 kendaraan sebulan sebelum pada 1990, menjadikan jumlah
seluruhnya pada paro pertama tahun ini 8.581 kendaraan. Tahun lalu
1.253 kendaraan diimpor, rata-rata perbulan 1.104 kendaraan. Pada
1988 jumlah seluruh impor lewat pelabuhan Lagos mencapai 7.820 atau
rata-rata per bulan 652 kendaraaan.

Bisa dilihat beriota itu tak sekedar melaporkan angka-angka impor pada
1990. Penulisnya menempatkannya pada konteks dan memperlihatkan nilai
pentingnya dengan membandingkannya engan angka-angka tahun-tahun
sebelumnya. (Namun berita itu, sungguh, mengambil resiko membuat
pembaca letih oleh terlalu banyaknya angka pada tiga paragraf pertama.)

Bagaimana kita menjadikan sajian statistik yang bermanfaat itu
sebagai sebuah berita yang bermakna? Perbandingan antar-tahun tak
cukup untuk mengungkapkan seluruh cerita di balik stastistik.
Wartawan harus berhenti sejenak, mencermati seluruh angka di
hadapannya, dan bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang sesungguhnya
terjadi di sini?

Menyimak data mentah akan terlihat bahwa pada 1990 impor kendaraan
meski secara rata-rata tergolong paling tinggi, mulai menurun pada Mei
dan terus merosot hingga Juni dan Juli. Apa yang sesungguhnya
diperlihatkan statistik ini adalah jumlah impor kendaraan yang
bergerak turun setelah terjadi rekor kenaikan pada awal tahun. Tapi
bahkan simpulan itu tak cukup untuk menjadikan statistiknya sebagai
sebuah berita yang bermakna. Sang reporter perlu bertanya mengapa
kenaikan impor kendaraan diikuti oleh kemorosatan. Jawaban atas
pertanyaan ini: Pasar tampaknya kini mulai beraksi terhadap pembatasan
oleh Pemerintah Militer Federal lewat undang-undang tarif bea masuk
bagi barang-barang impor.

Mengapa pemerintah memberlakukan pembebatasan? Karena impor mengancam
kelangsungan pabrik perakitan kendaraan di dalam negeri. Itu berarti
perbandingan stastistik lebih lanjut bisa dilakukan: Bagaimana
kenaikan dan penurunan impor kendaraan dibadingkan dengan angka-angka
produksi di dalam negeri? Ada saling pengaruh?

Dengan bertanya–dan menjawabnya–sang reporter bisa menjelajah
dimensi lain selain sekedar melaporkan angka, dan karenanya menjadikan
stasistik yang ada sebagai sebuah berita yang bermakna. Dan arti
itulah yang harus ditempatkan di beberpa paragraf pertama, bukan
angkanya. Dihadapkan pada stastistik kasar, seorang wartawan harus
bertanya: Apa ini artinya? Jawabannya atas pertanyaan ini lebih
penting bagi pembaca ketimbang angka-angka yang memunsingkan

06. Cari Sisi lain

Tak ada prinsip utama yang dasar dalam jurnalistik ketimbang meliput
dari dua sisi. Tapi betapa seringnya ini dilupakan – atau diabaikan -
dalam berita-berita bisnis. Sering seorang reporter menerima
pemberitaan rutin sebuah perusahaan, menuliskan beritanya – dan, ya,
itu saja. Atau reporter itu mendapatkan informasi rahasia tentang
rencana sebuah perusahaan dan segara menuliskanya.

Namun biasanya ada segi lain pada berita-berita seperti itu, dan tak
jarang banyak segi. Meski seluruh informasi yang dibutuhkan seorang
reporter tampaknya sudah di tangan, bila hanya satu saja sumber
informasi, jarang diperoleh gambaran yang lengkap pada sesuatu hal.
Reporter harus selalu bertanya-tanya. Perhatikan lead dari sebuah
berita di koran Thailand ini:

Major Group, yang menangani iklan bagi delapan produsen film
internasional untuk pasar Thailand, kini tengah memmpertimbangkan
niat untuk meninggalkan semua kliennya karena terlibat konflik serius,
kata sebuah sumber.

Dengan menyebutkan sumber tersebut diwawancarai secara ekslusif berita
itu menambahkan bahwa para produsen film membayar Major komisi sebesar
enam persen dari pendapatan d pasar Thailand kerena sepinya penonton.
Major beraksi dengan membatalkan promosi. Sumber dari Major itu
mengatakan komisi enam persen sama sekali tak cukup untuk menutup
biaya promosi dan “delapan persen memungkinkan pengiklan lebih efektif”

Apa yang hilang di sini? Komentar dari para produsen film, tentu
saja. Betul, sang wartawan mendapatkan berita bisnis bagus yang
ekslusif. Tapi berita itu hanya bergantung pada sebuah sumber. Sang
wartawan perlu mendapatkan sisi atau sumber lain–atau setidaknya
menunjukkan bahwa para produsen film tak bisa dihubungi untuk dimintai
komentarnya, atau memang tak mau berkomentar.

Tujuannya: keberimbangan, dan gambaran yang lebih jelas bagi pembaca.
Tak ada reporter yang benar-benar objektif. Dengan memilih apa yang
benar-benar objektif. Dengan memilih apa yang menarik dalam suatu
berita – atau bahkan berita apa yang akan ditulis – seorang reporter
sudah memihak. Itulah sebabnya kita harus berusaha mati-matian untuk
bersikap adil kepada semua pihak.

Dua koran India melaporkan perundingan ekonomi antara India dan AS
mengenai apa yang oleh AS disebut Undang-undang Super-301.
(Celakanya, tak satu pun koran itu yang menjelaskan atau
mendefinisikan Super-301, yang menentukan produser bagi AS untuk
membalas apa yang dipandangnya sebagai pembatasan perdagangan tak adil
oleh negara asing.)

Sebuah tulisan, dengan mengemukakan pokok-pokok pandangan AS,
melaporkan kedua negara hampir terperangkap kemacetan dan India
seperti akan tetap berada dalam daftar hitam AS karena dituduh
menerapkan pembatasan perdagangan.

Tulisan yang lain, seraya mengemukakan pokok-pokok pandangan India,
melaporkan bahwa AS memahami dengan lebih baik posisi India meski
tetap ada perbedaan-perbedaan di antara kedua pihak

Kedua cara memperlakukan berita itu sah. Tapi tak satu pun
diantaranya yang memberikan sajian secara adil pandangan pihak lain.
Tulisan yang mengemukakan pokok-pokok pandangan AS melaporkan komentar
menteri keuangan India, tapi membenamkannya di bagian belakang.
Tulisan yang satunya tak menyajikan sama sekali posisi AS.

Kadang-kadang ‘keberpihakan’ serupa itu bukan timbul akibat
kecerobohan atau kemalasan reporter tapi karena adanya “tekanan” dari
luar – dari sebuah perusahaan, atau pemasang iklan. (Ada pula,
terkadang, “tekanan” dari dalam, dari pemilik koran yang tak ingin
kepentingan bisnisnya – atau teman-temannya – dieksploitasi.)
Sayangnya, keadaan keuangan banyak koran memberi peluang pemasang
iklan untuk mendiktekan topik liputan, melemahkan kebebasan editorial.
Wartawan profesional hanya bisa berharap agar penerbitan bisa menahan
“godaan-godaan” untuk menukarkan liputan yang positif demi iklan.

Kalau bukan itu yang terjadi, berita yang hanya menampilkan satu sisi
saja cenderung menimbulkan kecurigaan pembaca bahwa tulisan yang ada
sudah “dibeli” oleh pemasang iklan. Contoh, sebuah majalah bisnis di
sebuah negara pengahsil minyak menurunkan laporan lengkap tentang
usaha perusahaan minyak setempat untuk melindungi lingkungan.

Masalahnya: Sang wartawan tak meminta pendapat kalangan pencinta
lingkungan atau pihak luar lainnya yang berkemungkinan mempersoalkan
pencitraan perusahaan itu sebagai sosok ideal dalam kampanye
perlidungan terhadap lingkungan. Pembaca tak bisa disalahkan bila
bertanya-tanya bahwa ada sisi lain yang tak dilaporkan dan bahwa
liputan itu dipengaruhi oleh perusahaan-perusahan tersebut. n

07. Memanusiakan Berita Bisnis

Berita bisnis memang berhubungan dengan angka. Namun lebih dari itu,
ia sekaligus juga menyangkut manusia. Bukan sekedar pejabat
pemerintah dan eksukutif bisnis dan bankir dan ekonom, tapi manusia
nyata–lelaki dan perempuan yang menjadi konsumen dan pembayar pajak.

Ini begitu sering dilupakan oleh wartawan bisinis. Misalnya, sebuah
majalah bisnis di India memuat feature mendalam tentang perebutan
konsumen dalam industri kripik tentang yang tengah berkembang.
Sejumlah eksukutif di perusahaan snack dikutip–tapi tak satu pun
konsumen pemakan kripik kentang, orang-orang yang diperebutkan oleh
pemain di Industri yang bersangkutan.

Sebuah mingguan bisnis di Nigeria memuat feature panjang tentang
lingkungan kewirausahaan yang berubah di Negara Bagian Katsina.
Laporan ini meliput pula analisis tentang berbagai kebijakan
pemerintah yang dilancarakan untuk mendorong wirausaha mendirikan
bisnis skala kecil–namun terang-terangan mengabaikan suara dan
pengalaman para wirausaha sendiri.

Bandingkan kedua contoh itu dengan lead sebuah tulisan pada majalah
Newswatch tentang kelangkaan koin di Nigeria ini:

Bus itu berhenti di Ojota di luar Lagos. Kendekturnya meloncat keluar,
tapi segera dikepung oleh para penumpang yang membuntutinya turun,
masing-masing dengan tangan terentang, meminta kembaliannya. Kondektur
itu mengabaikan mereka, tapi tetap berpikir keras. Kemudian ia
menghitung mereka, membagi mereka menjadi dua kelompok dan dari tangan
kirinya, yang mengengam tumpukan uang kertas, ia mengeluarkan beberapa
pecahan 1 naira dan 50 kobo. Katanya, kepada tiap-tiap kelompok,
“Kalian bagi ini di antara kalian.”

Tulisan berlanjut dengan menjelaskan betapa kelangkaan itu menyebabkan
bisnis menjadi sulit dan kadang-kadang sampai menimbulkan kerusuhan.
Dianalisisnnya kemungkinan -kemungkinan yang menyebabkan kelangkaan.
Tulisan itu merupakan berita feature yang relatif panjang dengan
banyak ruang untuk memotret drama kemanusiaan. Sebuah contoh yang baik
bagaimana sebuah “lead anekdotal” – cerita ringkas dan khas tentang
orang yang menjadi ilustrasi maksud sebuah berita – bisa merenggut
perhatian pembaca. Mengapa? Karena orang suka membaca sesuatu tentang
orang.

Orang senang membaca drama keberhasilan dan kegagalan dan persaingan.
Mereka senang mendegar suara rata-rata orang dalam kalimat-kalimat
sederhana dan bersifat sehari-hari. (kontras dengan kutipan-kutipan
menjemukan dari para eksutif perusahaan, seperti termuat dalam
siaran-siaran pers.) Mereka suka deskripsi rinci tentang orang dan
peristiwa yang memungkinkan mereka menangkap apa yang sesunguhnya
terjadi, seperti manyaksikan film.

Itu biasanya mungkin dilakukan pada sebuah berita feature yang
panjang. Tapi bahkan dalam berita bisnis yang paling dasar pun
wartawan harus mencari sisi-sisi kemanusiannya. Ini biasanya menjadi
petunjuk bagaimana wartawan mengaitkan sisi berita dari sebuah cerita.
Pembaca biasanya harus bisa menjawab pertanyaan: Bagaiamana berita ini
mempengaruhi saya?

Contoh, seorang pembaca secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan
bisnis bila perkembangan itu berdampak pada harga atau pajak atau
ketersedian barang atau daya beli orang. Setiap berita yang berkaitan
dengan produk konsumsi atau bisnis biasanya punya pengaruh tertentu
tehadap pembaca. Bahkan bila dampaknya tak langsung, pembaca tetap
ingin tahu apa akibatnya terhadap orang lain. N

08. Tunjukkan Makna Berita Bisnis

Bacalah kalimat pertama artikel pada halaman muka sebuah koran
terkemuka ini: Nigeria Air way kini memikul rugi 22 juta naira per
tahun, kata direktur pengelolanya, Mayor Jendral olu Bajowa, kemarin.

Stop Press. Berita besar. Berita halaman depan.

Tapi lalu apa?

Pertanyaan itu harus kerap diajukan ketika membaca berita bisnis. Dan
juga harus diajukan ketika hendak memulai menulis berita bisnis. Bagi
seorang wartawan bisnis, ada kewajiban untuk tak hanya melaporkan apa
yang terjadi atau apa yang dikatakan seseorang, tapi juga menjelaskan
maknanya. Berita harus lulus “uji lalu apa”

Sebuah tulisan berita harus menjelaskan kepada pembaca apa akibat
sebuah peristiwa, mengapa peristiwa itu penting – bagi perusahaan,
bagi angkatan kerja, bagi,industri, bagi negara. Mengapa pula ia
penting bagi pembaca.

Itulah cara terpenting yang memungkinkan wartawan menjadikan sebuah
berita bisnis yang rumit menjadi mudah dipahami. Jelas,
pertanya-pertanyaan itu tak bisa dijawab dalam satu tulisan saja. Tapi
beberapa diantaranya harus. Dan jawabnya harus berada di awal tulisan,
bukan tengelam dalam bagian-bagaian yang semakin tak penting. Sebuah
laporan berita yang baik haruslah melaporkan fakta-fakta penting di
bagian awal, lalu diikuti oleh penjelasan sederhana mengenai maknanya.

Pada berita tentang Nigeria Airways apa yang penting mengenai kerugian
besar perusahan itu? Jelas, kerugian itu mengacam masa depan
perusahaan negara itu dan bisa menimbulkan pergantian menejemen
puncak. Itu juga bisa menimbulkan PHK atau penyitaan
pesawat-pesawatnya di negara lain tempat perusahaan itu berutang biaya
pendaratan. Itu bisa mengacaukan usaha pemerintah untuk
mengkormersilkan Nigeria Airways (tentu harus dijelaskan apa yang
dimaksud “mengkomersilkan”)

Lebih penting lagi, apa makna berita itu bagi pembaca? Mengapa mereka
harus peduli pada kerugian perusahan tersebut? Sebuah perusahaan bisa
mendandani kerugian dengan memotong biaya maupun meningkatkan
pendapatan. Bagaiamana perusahaan tersebut meningkatkan pendapatannya?
Dengan menaikan harga tiket! Kini kita berbicara tentang sesuatu yang
penting bagi pembaca.

Masalah bagi pembaca: Analisis sederhana itu menembus wilayah yang
jauh di luar sekedar fakta dan sampai pada opini dan spekulasi. Namun
wartawan bisa – dan harus – menarik simpulan logis dari peristiwa
tanpa masuk ke dalam opini yang bisa diperdebatkan atau spekulasi yang
tak bisa dipertanggungjawabkan. Di sini wartawan bisa memanfaatkan
pengetahuannya mengenai perkembangan mutahir di industri penerbangan,
atau menghubungi pengamat luar mengenai perkiraan berapa besar harga
tiket harus dinaikan untuk mendandani kerugian 22 juta naira itu.

Analisis itu membatu pembaca memahami berita. Perhatikan contoh ini.
Fakta: Komisaris Allied Industrial Corp. ditahan karena tuduhan
pengelapan. Analisis: Ini bisa memperburuk citra perusahaan dan,
akhirnya, kinerja penjualannya, Opini: karena, demi kepentingan
terbaik perusahaan, komisaris itu harus mundur. Hanya pernyataan yang
terakhirlah yang tak pantas disertakan dalam sebuah berita.

Toh, kalimat itu masih kabur dan perbedaan antara analisis logis yang
tepat dan opini yang berlebihan atau spekulasi tak selalu jelas. Salah
satu cara untuk mengetahui apakah repoter sudah menerobos wilayah
opini yang berlebihan adalah: Bisakah pembaca mengatakan di mana letak
simpati reporter, dipihak mana ia berada? Seorang pembaca harus tak
bisa menjawab pertanyaan ini.

Analis bisa bersifat sederhana. Ingat berita tentang suku bunga
antarbank yang telah disebutkan pada Tip 2?

Suku bunga antarbank, yang relatif stabil dalam tiga bulan terakhir,
melonjak tiga presen pekan lalu……

Tapi reporter tak berhenti disitu:

… menimbulkan isyarat kekhawatiran bahwa biaya pinjamnan bank sekali
lagi begerak naik.

Dengan menambahkan berapa kata tersebut, ada sebuah jawaban bagi
pembaca yang mungkin bertanya : Lalu apa? Reporter harus mengakui
akan ada sejumlah pihak yang tak sependapat dengan analisisnya. Pada
banyak berita akan baik bila disertakan apa yang disebut kalimat atau
paragaraf “sudah barang tentu”. Misalnya: “sudah barang tentu, Nigeria
Air ways bisa menjalani krisis keuangan tanpa memecatat karyawannya
atau menaikan harga tiket.” Pengakuan bahwa ada sisi lain pada isu
Nigeria Airways ini memperkuat kridibelitas tulisan dengan
memperlihatkan reporter telah mempertimbangkan pendangan lain sebelum
menyimpulkan sesuatu.

Beberapa penerbitan dan kantor berita cenderung menjauhkan diri
bahkan dari analisis dasar. Atau wartawan berhadapan dengan kendala
politis. Jika demkian halnya, mereka bisa saja mencari sesorang,
analisis luar atau pejabat terkait, yang bisa memberikan analisis.
Jika pada sebuah konferensi pers reporter hanya berkesempatan
mengajukan satu pertanyaan, tak keliru jika bertanya: Mengapa berita
ini penting? Biarkan sang pembicara menganalisinya sendiri. Tak jarang
hal ini menjadika lead sebuah tulisan.

Tanpa analisis tulisan tak memberikan pemaham yang dibutuhkan pembaca.
Sebuah koran di Cina melaporkan bahwa kantor paten nasional
memperkirakan akan ada 120 ribu permohnan paten hingga November. Lalu apa?

Sebuah berita di koran India tentang sanksi perdagangan Super-301
melaporkan bahwa India berkemungkinan di Blacklist oleh AS. Lalu apa?

09. Jangan Terpaku pada Siartan Pers

Sebuah siaran pers perusahaan atau pemerintah hanyalah sebuah titik
beranjak bagi suatu berita bisnis. Liputan lanjutan biasanya
diperlukan untuk menghidupakannya. Kita perlu juga mewawancari
perusahaan-perusahan pesaing, pengamat luar, konsultan, akademisi,
atau sumber-sumber lain untuk mendapatkan sisi dari berita. (lihat Tip
6). Dan sisi siara pers juga hampir selalu menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan yang mendorong kita untuk melengok langsung
perusahaan yang mengeluarkannya. Mungkin pertanyaan penting adalah -
silakan tebak – “lalu apa?” (lihat Tip 8). Kita bisa menyatakan ini
dalam kalimat yang agak ‘lunak’, seperti: Apa pentingnya pengumuman
ini? Apa dampaknya terhadap perusahaan? Pada angkatan kerja? Pada
industri? Pada negara? Pada pembaca? (Lihat Tip 7.).
Pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin: Dibandingkan dengan apa?
(Lihat Tip 4.) Dalam bahasa sehari-sehari apa yang dimaksudkan dengan
istilah tertentu dalam sesuatu siara pers – jika ada? (Lihat Tip 1 dan
2.).

10. Kail Gagasan-gagasan Baru

Mungkin cara terbaik untuk membuat berita bisnis menarik perhatian
pembaca adalah menuliskan sesuatu yang tak biasa, hal menarik yang tak
dilaporkan penerbitan lain. Dengan mencari sisi baru perkembangan
bisnis. Dengan sudut pandang bisnis pada berita-berita umum. Dengan
melihat sudut pandang kemanusiaan pada berita bisnis. Dengan
mempelajari kecenderungan-kecederungan yang menimbulkan dari – dan
punya arti lebih penting – ketimbang peristiwa-peristiwa tertentu.

Itu jelas menurut penulisan berita feature yang melebar dari sekedar
berita-berita sehari-hari yang bersifat siaran pers atau pengumungan
pendapatan perusahaan. Tujuannya: Untuk mengajak pembaca lebih
menyimaknya ketimbang berita lain pada halaman yang sama – atau justru
berpindah halaman. Gagasan mengenai berita-berita serupa itu kerap
muncul dari rapat-rapat brainstroming dengan redaktur dan repoerte.
Setiap media massa harus mendorong rapat-rapat seperti ini. Inilah
beberapa cara untuk mengali gagasan:

a. Cari sudut pandang bisnis pada berita-berita umum. Banyak hal yang
kini tak bisa lepas dari bisnis, dan mencari sudut pandang bisnis pada
sebuah berita besar berpeluang menarik minat pembaca. Contoh,
pemerintah berencana memberlakukan kartu tanda penduduk yang bersifat
nasional. Siapa yang beruntung menjadi pelaksannya?

b. Perhatikan kecenderungan tertentu. Sebuah peristiwa bisa jadi
memang penting, tapi akan lebih penting bila itu menjadi tanda bagi
sejumlah kecenderungan yang lebih besar. Perhatikan hutannya, jangan
sekedar pohonnya. Contoh, sebuah perusahaan mengumumnkan akan
meluncurkan sabun mandi baru,,. Pengecekan pada sejumlah perusahaan
pesaing buka tak mungkin akan memperlihatakan bahwa ini bagian dari
manuver industri secara keseluruhan, yang terdorng oleh kemasan bahwa
sabun serupa yang dihentikan pembuatannya tak aman digunakan.

c. Cari sudut pandang kemanusiaan. Membaca tentang orang yang sukses
berbisnis adalah hal yang menarik. Contoh, pemerintah berniat menjual
perusahaan-petusahaan milik negara kepada swata (privatisasi).
Bagaimana dengan profil pejabat yang mengetahui program ini? Juga
menarik membaca bagaimana bisnis mempengaruhi orang? Contoh, cerita
tentang seorang karyawan perusahaan yang membeli saham perusahaan
bersangkutan, dan mengapa ia melakukannya?

d. Cari studi kasus yang menjadi ilustrasi sesuatu kecenderungan.
Pembaca menyenangi cerita yang memperlihatkan drama bagaiamana sebuah
perusahaan berusaha, misalnya, untuk mengembangkan produk baru. Hidup
kerap sedramatis fiksi. Peliputan mendalam kerap bisa membangun sebuah
narasi bisnis yang penuh perjuangan, harapan, kekecewaan dan akhirnya,
keberhasilan atau (kegagalan).

Wartawan juga harus mempertimbangkan perluasan definisi tradisional
tentang berita bisnis. The Wall Street Journal telah menambah bagian
yang berisi peliputan-peliputan sisi bisnis kesehatan, ilmu
pengetahuan, hukum, olah raga, hiburan, dan subjek-subjek lain.
Perhatikan pula bahwa bisnis tak selalu mengenai perusahaan besar.
Bisnis skala kecil pun tak kalah penting nya bagai ekonomi suatu
negara dan biasanya melibatkan lebih banyak orang. Berita tentang isu
yang mempengaruhi bisnis skala kecil umumnya banyak dibaca.

Wilayah bisnis lain yang kini berkembang adalah keuangan orang
seorang, yang menjanjikan kepada pembaca saran ahli tentang bagaimana
mengelola uang. Berita-berita demikian ini meliputi subjek-subjek,
seperti jenis investasi baru, praktik penipuan yang merugikan
investor atau perbandingan mengenai insentif yang ditawarkan bank
kepada nasabah


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.