Profil…ku

Aku dilahirkan di desa terpencil di Wilayah Bima tepatnya di Tonda-Bolo tanggal 04 Februari 1975 dengan Nama Iwan Kurniawan Zubair. Umur 3 Bulan sudah diboyong oleh orang tua pindah tugas sebagai Guru SMP di Taliwang Sumbawa (Sekarang telah menjadi Kabupaten Baru di Nusa Tenggara Barat yaitu Kabupaten Sumbawa Barat). 17 tahun waktuku habiskan di Kabupaten baru ini. Memasuki  SMU, aku pindah ke Kabupaten Dompu yang kebetulan orang tuaku juga pindah ke SMP 1 Dompu-NTB. Selesai SMU aku melanjutkan studyku ke Salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta. Suasana Jakarta membuatku tidak betah dan akhirnya pindah melanjutkan S1 di Yogyakarta. di bangku kuliah ini lah membuatku lebih kenal dunia wartawan lewat Lembaga Pers Mahasiswa.

Profesi wartawan bagi saya adalah profesi yang sangat saya idam-idamkan sejak kecil. profesi ini selalu menggelitik saya ketika mendengar profesi ini selalu bersinggungan dengan hal-hal yang berbau tantangan. Dunia tulis menulis, suka membaca buku sejak SD coba saya geluti walau penyakit malas selalu menyerang. dan ternyata berhasil. Menginjak Kuliah semester pertama disalah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta saya sudah mulai mencoba merintis berdirinya Lembaga Pers Mahasiswa, karena kebetulan saat itu dikampusku belum ada Lembaga tersebut. Dunia Tulis Menulis terus aku asah dengan membiasakan diri menulis dimedia-media lokal dengan garapan isu-isu lokal dan ternyata selalu dimuat walau tidak mendapatkan fee (tapi cukup membuatku senang, syukur2 tulisan tersebut dibaca dan bisa berguna bagi Publik). Pada semester selanjutnya, karena Lembaga tersebut sudah berjalan, aku sudah mulai mencoba Merintis jaringan diluar Kampus dengan Lembaga-Lembaga Pers Mahasiswa Perguruan Tinggi lainnya di Yogyakarta sampai dipercaya menjadi caretaker bersama-sama teman Kampus lain di satu-satunya Perhimpunan Pers Mahasiswa Yogyakarta (PPMY) di kota gudeg ini (saat itu). setelah itu aku dan teman-teman menggagas lagi dengan membentuk Forum Pers Mahasiswa Yogyakarta (FORESMAYO) di Pantai Parangtritis dan akhirnya bergabung bersama teman-teman Lembaga Pers Mahasiswa Se-Indonesia di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang katanya melanjutkan Organisasi Pers Mahasiswa pendahulunya yaitu IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia). Dalam kesibukanku menjadi Mahasiswa dan pegiat Pers Mahasiswa aku mencoba terus berpacuh mendalami dunia kewartawan ini sampai akhirnya Setelah merasa cukup saya mencoba menjadi wartawan Freeline untuk beberapa Media Lokal ditempat kelahiran saya dan ternyata para pemilik media disana sangat WELCOME. (walau saya tidak menerima gaji saya tetap enjoy dengan profesi ini). menjadi pegiat Pers Mahasiswa (Persma) cukup membuatku Optimis kedepan karena banyak sekali pengalaman menarik yang tidak pernah aku dapatkan didunia Kampus. menambah wawasan, bisa tukar pikiran dengan teman-teman Pers Mahasiswa Se-Indonesia diberbagai ajang hampir tidak pernah luput dariku walau harus mengeluarkan kocek pribadi yang seharusnmya buat bayar kuliah tapi aku pakai untuk akomodasi keberbagai daerah untuk mengikuti ajang PPMI diberbagai daerah. dan setiap perjalananku selalu aku manfaatkan untuk menulis berita dan aku kirim ke media-media didaerahku via internet atau pos. Profesi ini juga yang membuatku banyak kenal dengan berbagai karakter Masyarakat, Tokoh, Artis, Pejabat dan lain-lain. sampai-sampai aku lupa bahwa statusku masih mahasiswa Paling Lama dikampus (MAPALA) 8 tahun loh. Sampai akhirnya saya menjadi wartawan disalah satu Media. Proses pindah dari Media yang satu kemedia yang lainnya juga terjadi padaku. Dalam kurun 5 Tahun, 5 kali juga aku pindah, persoalannya bukan karena materi tapi hal yang sangat Prinsip. Niatku untuk melanjutkan profesi ini sempat surut ketika dunia kewartawanan pada era ini diterpa badai yang tidak sedap. Dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Menghalalkan Amplop, tidak care dengan apa yang terjadi, membuat berita, dimuat kalau ada fee nya, dikasih kebebasan tapi tidak paham akan arti kebebasan (itulah yang melekat dalam dunia wartawan sekarang ini) membuatku cukup terusik. Sampai akhirnya muncul Pertanyaan Besar……APA YANG BISA AKU LAKUKAN DENGAN PROFESI WARTAWAN INI…..!!? Agar bisa disegani oleh profesi lain dan bisa kembali pada fungsi dan tugas yang sebenarnya sebagai FUNGSI KONTROL SOSIAL bukan FUNGSI KEPENTINGAN/CORONG siapapun. Akhirnya aku berkenalan dengan salah satu Wartawan senior tahun 60-70-an Jus Soema di Pradja Mantan Wartawan INDONESIA RAYA dan KOMPAS serta salah satu penggagas Berdirinya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Sinargalih Bogor 1994. aku bertemu di acara STUDENT PRESS ASSOCIATION (SPA) di Puncak Bogor Jawa Barat. Ada hal menarik dari beliau yang membuatku pengen tahu dan menurutku itu bisa memecahkan persoalan dunia wartawan diatas. SEJARAH PERS INDONESIA………!!!??. Ya itu dia “jawabku”. Dari hasil Kliping Dokumen yang kudapat dari beliau, kucoba cermati ternyata memang benar ada yang salah dalam dunia wartawan kita (ini versiku). Banyak hal yang kubaca dari berbagai buku Sejarah Pers Indonesia yang tidak lugas diungkap atau memang sengaja disembunyikan misalnya tahun 1970-an ada beberapa Media besar di tanah air ini pernah menandatangani Perjanjian Kerjasama dengan Pemerintah dan ini sifatnya sangat prinsip dengan profesi ini (padahal itu tidak boleh dilakukan oleh PERS) dan itu ditandatangani oleh tokoh-tokoh yang dianggap jaman sekarang sebagai Tokoh Pers. Tahun 1982 kejadian itu terulang lagi sebuah Media Besar mau melakukan Perjanjian dengan Pemerintah dan akhirnya Media tersebut tahun 1994 dibredel oleh Pemerintah karena di anggap MELANGGAR ISI PERJANJIAN tersebut. Mudahnya Menjadi Wartawan dijaman sekarang, apalagi diterpa isu Wartawan mudah disogok, wartawan tidak care dengan berbagai persoalan membuat profesi ini tidak begitu dianggap oleh sebagian publik terutama para sejumlah pejabat, padahal PERS ini posisinya dalam negara yang berasaskan DEMOKRASI adalah PILAR ke 4 dari DEMOKRASI setelah Eksekutif, Legislatif, Yudikatif dan terakhir Pers. ini terbukti dengan di anggapnya negara kita masuk dalam jajaran bangsa Terkorup, tapi tidak ada satu mediapun yang bisa menjelaskan pada publik apa itu KORUPSI…!!?. Lalu apa ada satu mediapun di Negara ini yang bisa menjalankan fungsinya misalnya mengkritik segala kebijakan yang merugikan Publik….? atau membongkar kasus-kasus Korupsi seperti Tahun 1970-an seperti Koran INDONESIA RAYA mampu membongkar kasus KORUPSI PERTAMINA yang saat itu dipimpin Oleh Ibnu Sutowo masih kerabatnya Cendana…?. Pers sekarang hanya bisa mendapatkan informasi kalau pelaku Korupsi itu telah ditangkap atau diproses dari Lembaga-Lembaga Hukum misalnya Kepolisian, Kejaksaan, KPK ataupun Lembaga hukum lainnya. Meminjam Bahasanya Jus Soema di Pradja salah satu Tokoh Pers kita saat diwawancarai oleh salah satu Stasiun Televisi Nasional, “PERS kita dijaman sekarang diberi KEBEBASAN yang sangat luas, siapapun bisa berbicara sesukanya asal bisa dipertanggungjawabkan TAPI Pers kita tidak paham dan tidak mengerti apa itu KEBEBASAN…!! Mereka hanya mengejar target bisnis, target kepentingan tapi lupa akan Fungsi dan tugasnya. Setelah merasa lengkap aku mulai mencoba menyimpulkan bahwa Persoalan Pers sekarang lebih pada masalah SDM dan ketulusan dan pemahaman Pemilik Media terhadap Fungsi dan tanggungjawab Pers. “Bisnis sangat dianjurkan tapi jangan sampai tumpang tindih dengan maksud dan tujuan dari Pers itu sendiri”. Kalau ada keinginan menjadikan negara ini menjadi baik maka yang harus diperbaiki dulu adalah mentalitas pejabat dan Pers itu sendiri. Akhirnya aku berlabuh di salah satu Media baru di jakarta yang punya visi mencoba mengembalikan Posisi Pers ke rel yang sebenarnya apalagi didukung oleh UU Pers yang telah ada.

Salam

ikz_jurnalis@gmail.com




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.